Demokrasi Sejak Dini: Kemenangan Mutlak Paslon ini menyabet 61% suara dalam Pemilos Ash-Shiddiqiyyah 2026/2027
Teka-teki mengenai siapa yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan OSIS Terintegrasi Ash-Shiddiqiyyah Periode 2026/2027 akhirnya terjawab dengan angka yang meyakinkan. Berdasarkan infografis hasil perhitungan suara resmi yang dirilis pada Rabu, 14 Oktober 2026, kontestasi ini berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pasangan nomor urut 1, Nizham Hafizh El Kaamil (Kelas 11 MA U) dan Dewi Ayu Lestari (Kelas 8 SMPIT).Data yang dihimpun menunjukkan dominasi yang jelas. Paslon 01 (Nizham & Rere) berhasil mengamankan 349 suara, yang merepresentasikan 61% dari total dukungan. Di posisi kedua, Paslon 03 (Muhammad Farel Lubis & Nur Adwa Azzahra) mengantongi 187 suara atau sekitar 33%. Sementara itu, Paslon 02 (Rezky Renri Sipahutar & Dina Ma’rufa) mendapatkan 29 suara atau 5%. Di luar angka-angka tersebut, tingkat partisipasi warga sekolah patut mendapat apresiasi tinggi karena tercatat hanya 15 suara yang tergolong Golput (abstein).
Fenomena Sosial dan Pembelajaran Demokrasi
Jauh di balik selisih angka tersebut, terdapat fenomena sosial yang fundamental. Pemilos kali ini melibatkan spektrum pemilih yang luar biasa luas. Pendidikan demokrasi ditarik hingga ke akar rumput; anak-anak RA, SDIT, para guru, tenaga kependidikan, komite orang tua wali murid, hingga jajaran staf Yayasan turut menggunakan hak pilihnya.
Dari kacamata psikologi, langkah Ash-Shiddiqiyyah adalah praktik langsung dari Social Learning Theory (Teori Pembelajaran Sosial) gagasan Albert Bandura. Anak-anak di usia RA dan SD belajar paling efektif bukan melalui ceramah, melainkan melalui observasi. Ketika mereka melihat elemen senior dan dewasa serius memberikan suara, terekam sebuah cetak biru kognitif di kepala mereka: bahwa memilih pemimpin dan peduli pada lingkungan adalah sebuah tanggung jawab. Ekosistem ini berhasil membangun Collective Efficacy—keyakinan bersama bahwa komunitas mereka memiliki kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri. Angka Golput yang sangat minim adalah bukti empiris bahwa sikap apatis berhasil diredam.
Dalam bingkai keilmuan Islam (Ahlussunnah wal Jama’ah), pelibatan seluruh elemen ini merupakan manifestasi dari prinsip Syura (musyawarah). Keputusan tidak diambil secara sepihak oleh elit sekolah, melainkan diserahkan kepada jamaah. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam QS. Ali Imran ayat 159: “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” Kemenangan 61% ini adalah bentuk kebulatan tekad dari mayoritas warga Ash-Shiddiqiyyah.
Mandat besar ini membawa konsekuensi nyata. Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, kepemimpinan bukanlah tasyarruf (hak prerogatif) yang bisa digunakan sesuka hati, melainkan sebuah khidmah (pelayanan). Terdapat sebuah kaidah fikih populer yang menjadi landasan kebijakan publik: Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah (Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus selalu berlandaskan pada kemaslahatan bersama).
Artinya, bagi Nizham dan Rere, 349 suara yang mereka dapatkan bukanlah piala kemenangan, melainkan Mas’uliyyah (pertanggungjawaban). Sesuai dengan hadis riwayat Muttafaq ‘alaih: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” Program-program unggulan yang dijanjikan saat kampanye, seperti Pojok Kreativitas dan pembentukan karakter, kini harus direalisasikan dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga sekolah, termasuk pendukung Paslon 2 dan Paslon 3.
Panitia Pemilos menutup rangkaian acara ini dengan elegan. Dalam infografis hasil akhir, tercantum pesan penutup yang menyejukkan:
“Jazakumullahu khairan katsiran kepada seluruh siswa/i, guru, pegawai, komite, wali murid, dan warga Ash-Shiddiqiyyah… Setiap suara adalah bentuk kepedulian dan harapan untuk OSIS yang lebih baik.”
Pesan ini menjadi kunci ego pasca-pemilu. Kontestasi adu gagasan telah usai, dan bilik suara telah ditutup. Kini, tidak ada lagi sekat antara Paslon 1, 2, maupun 3. Yang tersisa hanyalah satu keluarga besar Ash-Shiddiqiyyah yang harus bersinergi mewujudkan lingkungan sekolah yang religius, berakhlak mulia, dan inovatif. Pemilos telah mengajarkan cara memilih; kini saatnya membuktikan cara memimpin.