Menautkan Doa dan Ukhuwah: Safari Istighotsah & Sholawat di DKM Miftahul Hasanah Perkokoh Ruang Ruhani Jemaah
Di tengah kepenatan hidup yang serba bergegas, berkumpul melafalkan shalawat bukan sekadar jeda rutinitas, melainkan ikhtiar sadar menyelaraskan detak hati dengan ketenangan Ilahi.
Lantunan doa, istighotsah, dan shalawat bergema khusyuk menyatukan langkah jemaah dalam agenda Safari Istighotsah & Sholawat yang diselenggarakan pada 22 Agustus 2026. Bertempat di lingkungan DKM Miftahul Hasanah, majelis ini menjadi ruang perjumpaan yang sarat nilai spiritual dan sosial: tempat belajar mendalami ilmu agama, mempererat tali silaturahmi antarwarga, serta meneguhkan komitmen bersama untuk istiqamah dalam kebajikan.
Kehadiran jemaah yang memadati majelis disambut hangat oleh segenap pengurus DKM Miftahul Hasanah. Kolaborasi dan keterbukaan pihak DKM menjadi pilar utama kelancaran kegiatan, membuktikan bahwa kemakmuran masjid berakar pada sinergi yang tulus antara pengurus dan umat. Safari ini tidak hanya dirancang sebagai seremoni seremonial berkala, melainkan wadah thalabul ‘ilmi yang diharapkan mengalirkan pemahaman serta keberkahan nyata bagi kehidupan sehari-hari jemaah.
Secara normatif, berkumpul untuk mengingat Allah ta’ala dan melantunkan shalawat atas Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki pijakan wahyu yang sangat kokoh. Allah ta’ala berfirman memerintahkan kaum beriman untuk memperbanyak dzikir:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41–42).
Kewajiban melantunkan shalawat pun ditegaskan secara khusus dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Kedamaian batin yang tercipta dalam majelis dzikir bukanlah ilusi subjektif, melainkan janji ilahi sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Keutamaan berkumpul dalam majelis ilmu dan dzikir ditegaskan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), mereka diliputi rahmat, dinaungi para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 2699).
Selain dimensi ibadah vertikal, majelis ini mengusung pilar horizontal yang kuat: silaturahmi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai keberkahan menyambung persaudaraan:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi jejak peninggalannya), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Al-Bukhari No. 5986, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
Dalam khazanah keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, tradisi istighotsah—memohon pertolongan (istighatsah) secara kolektif kepada Allah ta’ala dengan bertawasul melalui asma-Nya yang agung dan shalawat nabi—telah lama menjadi benteng spiritual umat. Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menggarisbawahi bahwa dzikir berjamaah memiliki faedah melipatgandakan syiar, menyalakan semangat ketaatan yang redup, dan menghidupkan hati yang lalai. Tradisi yang terus dipelihara para ulama pesantren ini berfungsi sebagai sarana muhasabah kolektif ketika menghadapi berbagai dinamika zaman.
Ditinjau dari perspektif psikologi sosial, ritual bersama seperti pelafalan dzikir dan senandung shalawat secara serempak memicu sinkronisasi interpersonal (behavioral & emotional synchrony). Ritme vokal dan kekhusyukan bersama mereduksi ketegangan sistem saraf otonom, menurunkan kadar kecemasan, serta membangkitkan rasa keterhubungan (sense of belonging). Individu yang mulanya datang membawa beban pikiran masing-masing mengalami peleburan emosi positif (collective effervescence), yang pada gilirannya menumbuhkan resiliensi mental dalam menghadapi tekanan hidup.
Puncak dari Safari Istighotsah & Sholawat ini bermuara pada kesadaran bahwa munajat lisan harus bertransformasi menjadi integritas amal perbuatan. Ketika doa telah dipanjatkan bersama, ikatan persaudaraan yang terbentuk menuntut pembuktian nyata berupa kepedulian sosial, tolong-menolong dalam kebaikan, serta keteguhan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Usainya majelis menandai dimulainya ikhtiar membawa pulang sakinah tersebut ke dalam ruang keluarga dan masyarakat luas. Doa dan ungkapan jazakumullahu khairan katsiran tercurah tulus bagi segenap jajaran DKM Miftahul Hasanah serta seluruh jemaah yang telah hadir dan mendukung kegiatan ini. Langkah-langkah kebaikan yang telah dipadukan diharapkan terus memancarkan keberkahan yang berkelanjutan.
Ketika majelis telah usai dan jemaah beranjak pulang, cahaya istighotsah tidak padam; ia berpindah ke dada masing-masing hamba, menjelma ketenangan sikap, kelembutan tutur kata, dan tangan yang senantiasa terulur untuk sesama.

Referensi:
-
Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 41–42 (Perintah memperbanyak dzikir).
-
Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56 (Perintah bershalawat kepada Nabi).
-
Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28 (Ketenangan hati melalui dzikir).
-
Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr wad Du’a wat Taubah wal Istighfar, Bab Fadhli Majalisi Adz-Dzikr, Hadits No. 2699.
-
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi bi Shilatur Rahmi, Hadits No. 5986.
-
Al-Nawawi, Abu Zakariya Muhyiddin. Al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar. Beirut: Darul Fikr. (Kajian mengenai anjuran dzikir berjamaah dan adab majelis).
- Páez, D., Rimé, B., Basabe, N., et al. (2015). Psychosocial effects of collective gatherings: Synchrony, perceived emotional communion, and social integration. Journal of Social Issues, 71(2), 268-285. (Mengenai dampak ritual kolektif dan sinkronisasi emosional terhadap kohesi sosial dan kesejahteraan psikologis).
View this post on Instagram