Eksekusi Qurban LDS Ash-Shiddiqiyyah 2026 — Membedah Strategi “Tabungan Qurban” dan Psikologi Sertifikasi Anak
Kebanyakan orang gagal berqurban bukan karena miskin, tapi karena mereka berbohong pada diri sendiri. Mereka menggunakan alasan “menunggu sisa uang di akhir bulan,” padahal secara rasional, uang gaji tidak pernah bersisa tanpa adanya pemotongan yang dipaksakan sejak awal.
Pelaksanaan pemotongan hewan qurban oleh Lembaga Dakwah & Sosial (LDS) Ash-Shiddiqiyyah pada 28 Mei 2026 telah tuntas dieksekusi. Berdasarkan laporan resmi lembaga, seluruh amanah dari shohibul qurban (pekurban) telah ditunaikan dengan lancar. Dokumentasi acara memperlihatkan jajaran panitia menyerahkan piagam penghargaan atau sertifikat secara langsung kepada para shohibul qurban, yang secara menarik juga melibatkan anak-anak di bawah umur sebagai penerima sertifikat tersebut.
Di balik kelancaran logistik penyembelihan ini, terdapat satu instrumen penting yang menjadi motor penggerak partisipasi jamaah, yaitu “Program Tabungan Qurbanku”. Secara manajerial, LDS Ash-Shiddiqiyyah tidak membiarkan jamaahnya bertarung sendirian melawan inflasi dan gaya hidup. Mereka menyediakan wadah tabungan terstruktur.
Mari kita bedah secara rasional mengapa sistem tabungan seperti ini krusial. Dalam ilmu psikologi perilaku (behavioral economics), manusia memiliki kelemahan yang disebut present bias—kecenderungan untuk lebih mementingkan kepuasan hari ini (membeli barang konsumtif) daripada kewajiban di masa depan (membeli hewan qurban). Program Tabungan Qurbanku secara psikologis berfungsi sebagai alat pre-commitment. Dengan mencicil sedikit demi sedikit, jamaah dipaksa untuk memotong dana sebelum sempat dihabiskan oleh ego konsumtif mereka.
Dari kacamata tradisi keilmuan fiqh di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren, menabung untuk tujuan qurban adalah hal yang sangat dianjurkan dan sah secara syariat. Qurban memang dihukumi sunnah muakkad (sunnah yang sangat ditekankan) bagi yang mampu (istita’ah). Namun, kemampuan finansial jarang datang tiba-tiba. Mengupayakan kemampuan melalui tabungan sejalan dengan nalar fiqh bahwa jika sebuah ibadah yang sangat dianjurkan membutuhkan persiapan dana, maka menyiapkan dananya menjadi sebuah kebaikan yang bernilai ibadah itu sendiri. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Hajj ayat 37 bahwa bukan daging atau darah hewan yang sampai kepada-Nya, melainkan ketakwaan. Niat menabung jauh-jauh hari adalah wujud nyata dari ketakwaan tersebut.
Hal yang paling tajam untuk disoroti dari dokumentasi LDS Ash-Shiddiqiyyah adalah pelibatan anak-anak yang memegang sertifikat qurban. Ini bukan sekadar ajang pamer foto. Secara psikologis (developmental psychology), ini adalah bentuk positive reinforcement (penguatan positif). Ketika anak-anak dilibatkan dalam prosesi, melihat hewan dipotong, dan menerima apresiasi formal berupa sertifikat atas nama mereka atau keluarga mereka, otak mereka mengasosiasikan ibadah qurban dengan pencapaian dan kebanggaan positif (sense of identity). Mereka belajar bahwa berkorban (mengeluarkan uang) untuk agama bukanlah sebuah kehilangan, melainkan sebuah kehormatan.
Di sinilah letak klimaks pemikirannya: Niat spiritual yang menggebu-gebu di hari raya tidak ada artinya tanpa eksekusi finansial yang disiplin. Program Tabungan Qurbanku menelanjangi alasan klasik masyarakat yang sering berlindung di balik kata “belum mampu”. Faktanya, banyak yang mampu membeli kopi mahal setiap hari, tapi mendadak merasa miskin saat ditanya soal qurban. Sistem tabungan mematikan ruang untuk beralasan.
Tentu saja, keberhasilan sistem tabungan ini membawa konsekuensi berat bagi Panitia Qurban ASH-SHIDDIQIYYAH. Uang yang dititipkan berbulan-bulan menuntut akuntabilitas mutlak. Penyerahan sertifikat secara publik dan pelaporan dokumentasi adalah cara lembaga ini membuktikan transparansi mereka, membuktikan slogan “Amanah, Syar’i, dan Terpercaya” yang mereka usung.
Pada akhirnya, LDS Ash-Shiddiqiyyah tidak hanya sekadar bertugas menyembelih hewan. Melalui sistem tabungan dan transparansi pelaporan, mereka sedang merekayasa ekosistem ibadah yang sehat; memaksa jamaah untuk rasional mengatur uang, dan mendidik generasi berikutnya untuk tidak pelit pada Tuhannya.
Sertifikat yang dipegang anak-anak itu mungkin akan berdebu di lemari beberapa tahun ke depan. Namun, memori bahwa keluarga mereka mampu berdisiplin menyisihkan harta demi ketaatan, akan membentuk otot finansial dan spiritual mereka seumur hidup.