ashfest 2026 2 Asfest 2026
Program Dakwah

Mendobrak Tradisi Santunan Kaku — Pendekatan Rasional dan Psikologis LDS Ash-Shiddiqiyyah dalam Memuliakan Yatim

YAPISS · Kamis, 8 Oktober 2026 | 11:54 WIB

Kebanyakan acara santunan anak yatim sering kali lebih berfungsi untuk memuaskan ego spiritual para pesertanya ketimbang benar-benar memikirkan anak tersebut. Anak-anak dibariskan, diberi amplop, dijadikan objek foto, lalu diinstruksikan mendoakan donatur. Itu bukan pengasuhan; itu transaksi sosial yang dibalut agama.

Pada tanggal 24 September 2026, Lembaga Dakwah & Sosial (LDS) Ash-Shiddiqiyyah mengadakan kegiatan berbagi bersama anak-anak yatim binaan mereka. Jika dilihat sepintas, ini terkesan seperti rutinitas amal biasa. Namun, melihat langsung eksekusinya di lapangan, lembaga ini mengambil langkah yang jauh lebih tajam dan membumi. Mereka tidak mengadakan seremonial kaku di aula. Sebaliknya, anak-anak dibawa ke “Almaz Fried Chicken”, sebuah restoran komersial. Di sana, anak-anak dibiarkan menikmati fasilitas area bermain (indoor playground) layaknya pengunjung keluarga pada umumnya.

Mari kita bedah secara rasional mengapa pendekatan ini jauh lebih superior secara psikologis. Anak-anak yatim sering kali kehilangan apa yang dalam psikologi perkembangan disebut sebagai normalcy—pengalaman hidup wajar layaknya anak-anak yang memiliki keluarga utuh. Mereka terbiasa diisolasi sebagai kelompok penerima bantuan. Dengan membawa mereka ke restoran cepat saji dan membiarkan mereka meluncur di arena bermain, LDS Ash-Shiddiqiyyah sedang melakukan intervensi inklusi sosial (social inclusion). Mereka memberikan experiential well-being (kesejahteraan berbasis pengalaman). Anak-anak ini butuh merasa menjadi “anak biasa” yang berhak makan enak dan bermain di luar, bukan terus-menerus disadarkan akan status keyatiman mereka di atas panggung santunan.

Dari perspektif syariat dan tradisi keilmuan Islam yang dipegang erat di lingkungan pesantren, tindakan ini menyentuh inti terdalam dari perintah Al-Qur’an. Allah SWT menegur keras perilaku manusia dalam QS. Al-Fajr ayat 17: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” Kata kunci yang digunakan Al-Qur’an adalah ikram (memuliakan), bukan sekadar ith’am (memberi makan). Memberi amplop adalah memberi harta, tetapi mengajak mereka makan dengan layak di tempat yang bagus, melayani mereka bermain, adalah bentuk ikram yang sejati.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadith riwayat Imam Al-Bukhari bahwa orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga berdekatan dengan beliau seperti jari telunjuk dan jari tengah. Istilah yang dipakai adalah kaafil (penanggung/pengasuh). Mengasuh berarti mengambil alih peran orang tua yang hilang, termasuk menjamin kesejahteraan emosional mereka, bukan sekadar melempar sumbangan finansial.

Di sinilah titik paling krusial dari kegiatan ini: Para donatur yang menyumbangkan hartanya ke LDS Ash-Shiddiqiyyah sebenarnya tidak sedang membeli paket ayam goreng. Secara strategis, mereka sedang membeli memori masa kecil yang bahagia untuk anak-anak yang dipaksa takdir menjadi dewasa terlalu cepat. Ini adalah bentuk operasional dana umat yang langsung tepat sasaran pada perbaikan harga diri (self-worth) anak.

Tentu saja, realitasnya, agenda yang memanusiakan seperti ini tidak berjalan gratis. Kegiatan ini memakan biaya logistik dan operasional yang riil. Apresiasi yang diarahkan kepada para donatur bukanlah sekadar basa-basi, melainkan pengakuan bahwa tanpa uang dan kepedulian yang dikonversi menjadi tindakan nyata, niat baik hanya akan berhenti menjadi omong kosong.

Kesimpulannya, LDS Ash-Shiddiqiyyah telah merombak cara berpikir tradisional tentang amal. Mereka membuktikan bahwa berbagi bukan tentang seberapa meriah acara seremonialnya, tetapi tentang seberapa cerdas kita mengelola donasi untuk menyentuh kebutuhan emosional anak.

Amplop berisi uang mungkin bisa langsung habis dibelanjakan hari itu juga. Namun, pengalaman dihargai dan diajak tertawa lepas di sebuah tempat bermain, akan menjadi fondasi mental yang membuat mereka tumbuh tanpa rasa rendah diri.