ashfest 2026 2 Asfest 2026
Berita Yayasan

Benarkah Islam Agama yang Paling Benar? | ASHPOD – KOH DONDY TAN

Berita Yayasan · Senin, 5 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Hidayah kerap datang melalui jalan yang tidak terduga—sebagian orang tersentuh oleh alunan ayat suci, sementara yang lain menemukannya di ujung perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Perjalanan seorang mualaf seringkali dibingkai dalam narasi yang emosional. Namun, bagi Dondy Tan—yang akrab disapa Koh Dondy—keputusannya memeluk Islam pada 25 Juli 2014 [06:11] didahului oleh proses verifikasi teks yang ketat [06:39] dan pengamatan empiris selama bertahun-tahun [14:42].

Dalam perbincangannya di kanal ASH SHIDDIQIYYAH TV, Koh Dondy menceritakan bahwa perjalanannya bermula dari sikap kritis saat membaca Al-Qur’an [06:57]. Pada awalnya, klaim pembuka dalam surah Al-Baqarah (Dzalikal kitabu la raiba fihi) terasa begitu mutlak dan menantang bagi seseorang yang berada di luar Islam [07:04]. Namun, seiring penelusuran yang mendalam terhadap ayat-ayat kauniah [08:23], kisah-kisah kenabian, serta rentetan pertanyaan retonis yang menggugah akal seperti afala ta’qilun [07:47], ia menyadari bahwa Al-Qur’an memuat koherensi rasional yang tidak mungkin dikarang oleh manusia, terlebih oleh seorang yang ummi [10:48].

Sebelum menjatuhkan pilihan pada Islam, Koh Dondy mengaku sempat mempelajari berbagai tradisi keagamaan—mulai dari Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, hingga Konghucu—selama dua tahun [15:27]. Dari penelusuran literatur tersebut, ia mendapati perbedaan mendasar antara cara pandang Islam terhadap teks suci dengan sejarah kodifikasi kitab-kitab dalam tradisi lain [16:02]. Pengamatannya terhadap sejarah tekstual Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru [16:49], termasuk dinamika konsili-konsili gereja awal seperti Konsili Nicea tahun 325 Masehi [35:15], memperkuat keyakinannya pada kemurnian tauhid Islam yang konsisten menempatkan Allah SWT sebagai satu-satunya zat yang disembah tanpa sekutu.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Islam melalui risalah kenabian menegaskan prinsip universalisme yang melampaui sekat rasial. Merujuk pada khutbah Wada’ Rasulullah SAW, kemuliaan manusia di sisi Allah sama sekali bukan ditentukan oleh suku, warna kulit, atau golongan, melainkan tingkat ketakwaannya [13:35]. Hal ini menjadikan Islam bukan sekadar sistem teologis yang eksklusif, melainkan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) [13:50].

Menanggapi pentingnya literasi keagamaan di era modern, Koh Dondy menyoroti urgensi mempelajari kristologi bagi umat Islam [40:20]. Menurutnya, kajian perbandingan agama bukan untuk menumbuhkan sikap saling merendahkan, melainkan sebagai instrumen intelektual untuk memperkuat ketahanan akidah generasi muda dari disrupsi pemikiran dan upaya misionaris [40:46]. Bekal keilmuan yang memadai akan memastikan umat Islam memahami posisi teologisnya secara objektif, matang, dan berlandaskan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kesadaran beragama yang matang menuntut keseimbangan antara penghayatan spiritual dan ketajaman nalar. Ketika akal dipertemukan dengan kejujuran ilmiah, kebenaran wahyu akan tampak benderang tanpa perlu ditopang oleh retorika yang berlebihan.

 

=========== Referensi:

  • Al-Qur’an (Kajian tematik ayat-ayat kauniah dan retorika berpikir kritis).

  • Wawancara / Podcast: Benarkah Islam Agama yang Paling Benar? | ASHPOD – KOH DONDY TAN, kanal YouTube ASH SHIDDIQIYYAH TV (dipublikasikan 4 Oktober 2026).

  • Literatur perbandingan agama dan sejarah teologi Kristen (Perspektif studi kristologi historis).