Wisuda DTQ Ash-Shiddiqiyyah Angkatan ke-11 Rayakan Kelulusan Qur’ani dan Kitab Kuning
Banyak orang terpesona melihat barisan santri berbusana putih melangkah tegap dalam pawai wisuda, namun kekuatan sejati dari prosesi itu baru tersingkap saat kepala-kepala berpeci dan berkerudung itu tertunduk pasrah di pangkuan orang tua mereka.
Deru rebana dan lantunan shalawat mengiringi langkah ratusan santri berbusana serba putih dengan selempang ungu keemasan saat melintasi jalanan Kavling Telaga Indah, Desa Telaga Murni, Cikarang Barat. Pemandangan syiar tersebut menandai dimulainya perhelatan akbar Wisuda Dewan Tahsinul Qur’an (DTQ) Ash-Shiddiqiyyah Angkatan ke-11, sebuah prosesi wisuda terpadu yang merayakan kelulusan para penjaga kalam Ilahi dan pengkaji kitab turats di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah.
Berdasarkan dokumentasi visual resmi yang disiarkan melalui kanal ASH SHIDDIQIYYAH TV, latar panggung utama menegaskan keragaman capaian akademik dan spiritual para santri . Pada bentangan spanduk utama, tertera empat kategori kelulusan yang diuji secara ketat: Wisuda Ash-Shidqie (metode baca Al-Qur’an), Wisuda Al-Qur’an, Wisuda Tahfidz (mulai dari juz 30 hingga capaian multi-juz seperti 3 juz dan 5 juz), serta Wisuda Kitab Kuning. Struktur ini memperlihatkan kurikulum berjenjang yang tidak hanya menitikberatkan pada hafalan lafaz, melainkan juga ketuntasan tajwid dan pemahaman literatur klasik pesantren.
Rangkaian acara diawali dengan kirab santri wisudawan didampingi para asatidz dan grup hadrah yang menyusuri kawasan sekitar pesantren, disambut hangat oleh masyarakat setempat. Memasuki area majelis yang berdekorasi serba ungu, suasana berubah menjadi khidmat saat pembawa acara membuka sidang terbuka. Sebelum prosesi penganugerahan, para wisudawan perwakilan jenjang tahfidz dan tahsin tampil di hadapan hadirin untuk membacakan maqra’ hafalan Al-Qur’an secara bergantian melalui pelantang suara, membuktikan kefasihan makharijul huruf dan ketepatan mad di depan dewan guru serta orang tua yang menyimak dengan mata berkaca-kaca.
Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah, Ustaz Adi Nurseha, Lc., M.Pd., menyampaikan taujih dan pesan kelembagaan dari mimbar utama Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an dan kitab kuning adalah dua pusaka ilmu yang menjaga identitas generasi Islam agar tetap teguh berpijak pada sanad keilmuan yang mu’tabar.
Kemuliaan para pengkaji Al-Qur’an ini berpijak langsung pada janji perniagaan abadi yang ditegaskan Allah ta’ala di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).
Keagungan membaca dan merawat hafalan Al-Qur’an diperkuat oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat shahih:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804, dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu).
Suasana majelis mencapai puncak keharuan yang mendalam (emotional climax) saat memasuki sesi sungkeman. Para wisudawan beranjak dari tempat duduknya, melangkah perlahan menghampiri orang tua masing-masing yang duduk di deretan kursi tamu. Tanpa aba-aba, tangis haru seketika pecah di seluruh penjuru ruangan. Para santriwati dan santriwan bersimpuh, meletakkan kepala mereka di pangkuan ibunda, mencium jemari ayah mereka yang kasar karena lelah bekerja demi membiayai pendidikan di pesantren. Pelukan erat, usapan lembut tangan orang tua di kepala anak-anak mereka, serta deraian air mata yang membasahi jilbab dan peci menjadi saksi peleburan rasa syukur dan permohonan ridha.
Momen sakral ini menghidupkan kembali wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai anugerah tertinggi yang dipersembahkan seorang anak penghafal Al-Qur’an kepada kedua orang tuanya kelak di akhirat:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ، فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟
“Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia seandainya matahari itu ada di antara kalian. Maka bagaimana sangkaan kalian terhadap orang yang mengamalkannya sendiri?” (HR. Abu Dawud No. 1453 dan Al-Hakim, dari Mu’adz bin Anas al-Juhani radhiyallahu ‘anhu).
Kewajiban merendahkan diri dan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) termaktub abadi dalam firman Allah ta’ala:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil’.” (QS. Al-Isra’: 24).
Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, wisuda bukanlah ajang pamer gelar intelektual. Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an mengingatkan bahwa kemuliaan ahlul Qur’an justru terletak pada kerendahan hatinya di hadapan guru dan kepatuhannya kepada kedua orang tua. Keterpaduan antara Al-Qur’an dan kitab kuning yang diusung Ash-Shiddiqiyyah mencerminkan manhaj Aswaja yang kokoh: Al-Qur’an sebagai sumber hukum tertinggi, dan kitab kuning sebagai piranti metodologis untuk memahami maksud syariat secara proporsional dan beradab.
Ditinjau dari perspektif psikologi relasi keluarga (attachment theory & emotional catharsis), sesi sungkeman yang diiringi tangisan pelepasan emosi berfungsi sebagai katarsis psikologis yang sangat mendalam. Tangisan bersama meruntuhkan hambatan komunikasi verbal antara generasi, melepaskan akumulasi kelelahan orang tua dan rasa cemas santri selama masa ujian, serta mengukuhkan secure bonding yang menumbuhkan rasa keberhargaan diri (self-worth) pada anak. Anak menyadari bahwa perjuangannya menghafal ayat dihargai secara tulus, sementara orang tua memperoleh kepuasan batin eksistensial atas amanah pengasuhan yang berbuah manis.
Setelah ketegangan emosional mereda, acara berlanjut pada prosesi penyerahan piagam kelulusan, sertifikat, medali, serta bingkai foto kenang-kenangan. Salah satu momen apresiasi membanggakan adalah penyerahan sertifikat beasiswa pendidikan tahfidz 5 juz kepada santriwati berprestasi atas nama Nur Hilmillah Aini (santri Banat Kelas XII MA / Pontrend Ash-Shiddiqiyyah) berupa potongan biaya SPP sebagai bentuk komitmen yayasan dalam memotivasi para kader penjaga Al-Qur’an.
Wisuda DTQ Ash-Shiddiqiyyah Angkatan ke-11 menegaskan pesan penting bahwa mencetak generasi Qur’ani tidak cukup dengan mengejar tumpukan hafalan. Karakter Rabbani yang sejati teruji dari bagaimana seorang santri bersimpuh memuliakan orang tuanya dan bagaimana ia menjaga amanah ilmu agar bermanfaat bagi kemaslahatan umat
Berita Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ) Lainnya