ashfest 2026 2 Asfest 2026
Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ)

Si Mungil Penjaga Wahyu: Maharani Shakila Azzahra Sukses Tuntaskan Sidang Tasmi’ 3 Juz di Ash-Shiddiqiyyah

DTQ · Jumat, 9 Oktober 2026 | 20:37 WIB

Melihat anak kecil duduk anteng main Handphone berjam-jam mungkin sudah pemandangan biasa, tapi melihat seorang anak perempuan usia sekolah dasar duduk bersila melantunkan ratusan ayat Al-Qur’an tanpa melihat teks mushaf sama sekali, rasanya hati ini langsung bergetar kagum bercampur haru.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ayah Bunda dan sahabat pendidik di mana pun berada!

Suasana hangat dan penuh haru kembali menyelimuti Aula Hj. Sunenti di lingkungan Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah. Kali ini, sorot mata para guru, wali santri, dan dewan asatidz tertuju pada sosok santriwati cilik bernama Adinda Maharani Shakila Azzahra. Mengenakan busana muslimah yang rapi, ananda dengan penuh keberanian melangkah ke atas panggung untuk menjalani Sidang Tasmi’ Hifdzil Qur’an 3 Juz Sekali Duduk.

Momen ini terasa kian istimewa karena Maharani merupakan adik kandung dari Adinda Nurhilmillah Aini—sang kakak yang belum lama ini juga telah menuntaskan sidang hafalan lima juz di tempat yang sama. Mengikuti jejak mulia sang kakak, Maharani membuktikan bahwa kecintaan pada Kitabullah benar-benar hidup dan mekar di dalam ruang keluarga mereka. Bak pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, keteladanan sang kakak menjadi kompas penuntun yang membakar semangat ananda untuk turut mengukir prestasi serupa di hadapan para penguji.

Dipandu oleh pembawa acara Udaka Aban Haryanto, sidang tasmi’ ini menuntut ketahanan mental dan daya ingat yang luar biasa. Bagaimana tidak, Maharani harus memperdengarkan hafalan tiga juz sekaligus secara berkesinambungan tanpa jeda, meliputi Juz 28, Juz 29, dan Juz 30. Duduk di kursi barisan depan, kedua orang tua ananda menyimak setiap bait ayat dengan pandangan mata berkaca-kaca. Di meja pengujian, proses sima’an dikawal dengan teliti oleh guru pembimbing tahfidz Ustazah Urwatul Wutsqo serta dewan penyidang Ustazah Hj. Mas’udah. Majelis ini turut dihadiri oleh jajaran penasihat dan asatidz yayasan, di antaranya KH. Ahmad Yani Nafis HM, Ustaz Sugianto, Ustaz Syahir Syahrudin S.Ag., dan Ustaz Edi Hamdi WHD.

Begitu lantunan Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Mujadilah mulai mengalun merdu dari lisan Maharani, keheningan majelis kian terasa khusyuk. Meskipun usianya masih sangat belia, artikulasi huruf dan tajwidnya terdengar runtut menyusuri surah-surah panjang di Juz 28, berlanjut ke keagungan Juz 29, hingga akhirnya ditutup dengan deretan surah-surah pendek di Juz 30 sampai Surah An-Nas. Menuntaskan puluhan surah dalam satu kali duduk bukanlah perkara gampang bagi anak seusianya; capaian ini lahir dari ratusan jam muraja’ah yang tekun di asrama dan keteguhan hati menahan kantuk.

Sebagai guru sekolah dasar Islam terpadu, kita paham betul bahwa daya tangkap memori anak-anak usia sekolah dasar sejatinya adalah masa emas (golden age). Al-Qur’an sendiri telah menjamin bahwa ayat-ayat suci ini memang dirancang mudah untuk diingat bagi siapa saja yang berniat tulus menjemputnya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Usaha anak-anak kita yang mendedikasikan waktu belajarnya bersama Al-Qur’an merupakan tabungan investasi abadi yang pahalanya terus mengalir deras:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).

Kemuliaan interaksi dengan kalam Ilahi ini disabdakan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits masyhur:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari No. 5027, dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu).

Dan kelak di hari kiamat, bacaan Al-Qur’an yang dijaga oleh bibir-bibir mungil ini akan menjelma menjadi sahabat penolong yang membela pembacanya di hadapan pengadilan Allah ta’ala:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804, dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu).

Usai Surah An-Nas dirampungkan dan doa khotmil Qur’an dilantunkan syahdu oleh Ustaz Syahir Syahrudin S.Ag., suasana ruangan berlanjut pada sesi taujih “Spirit of Al-Qur’an” yang disampaikan oleh Penasihat Yayasan, KH. Ahmad Yani Nafis HM. Dalam uraiannya yang segar, komunikatif, dan diselingi candaan khas pesantren, beliau mengupas filosofi makna nama Maharani sebagai ‘putri yang agung dan mulia’.

Beliau membawakan kisah hikmah mengenai seorang petani sayur yang dengan ikhlas memindahkan batu besar penghalang jalan raya hingga menemukan kotak emas titipan sang raja. Dari kisah tersebut, Kiai Yani menitipkan tiga pesan emas untuk seluruh santri: pertama, jangan gampang mengeluh saat menemui ujian belajar di pondok; kedua, jadilah santri yang selalu menghadirkan solusi; dan ketiga, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun, termasuk menjaga kebersihan lingkungan asrama. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah benteng akhlak yang menjaga keselamatan anak-anak di dunia hingga akhirat.

Keceriaan kian pecah saat Penasihat Yayasan, Bapak Ustaz Sugianto, naik ke panggung untuk memberikan apresiasi uang saku secara spontan kepada Maharani sebagai wujud penghargaan atas ketekunannya. Beliau mengingatkan para santri bahwa hadiah materi hanyalah pemantik semangat sesaat, sementara mahkota kemuliaan hafalan Al-Qur’an itu sendiri nilainya jauh melampaui segala perhiasan dunia. Rangkaian acara kemudian ditutup secara sempurna lewat untaian doa penuh berkah yang dipimpin oleh Ustaz Edi Hamdi WHD.

Melihat Maharani tersenyum bangga di samping kedua orang tuanya, kita disadarkan pada satu hal penting: mencetak generasi penghafal Al-Qur’an tidak butuh paksaan yang menakutkan, melainkan teladan hangat dari keluarga dan ruang belajar yang membesarkan hati anak dengan kasih sayang. Semoga langkah mulia Maharani Shakila Azzahra terus mengalir lancar hingga menggenapkan tiga puluh juz mutqin di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *