ashfest 2026 2 Asfest 2026
Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ)

3 Juz Sekali Duduk di Hadapan Penyidang: Muhammad Rifqi Abdillah Tuntaskan Sidang Tasmi’ di Aula Hj. Sunenti Ash-Shiddiqiyyah

DTQ · Jumat, 9 Oktober 2026 | 16:47 WIB

Menghafal ayat-ayat suci sering kali dikira sekadar kemahiran lidah menirukan lantunan irama, namun duduk berjam-jam mengalirkan hafalan tiga juz tanpa melihat mushaf di hadapan dewan penguji adalah ujian ketahanan jiwa, ketajaman fokus, dan penundukan adab di hadapan kalam Ilahi.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema syahdu memenuhi Aula Hj. Sunenti di kompleks Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah pada Rabu, 10 Juni 2026 . Melalui siaran resmi kanal YouTube Santri Ash-Shiddiqiyyah, terekam berlangsungnya agenda resmi Sidang Tasmi’ Hifdzil Qur’an 3 Juz yang dijalani oleh Ananda Muhammad Rifqi Abdillah, siswa kelas 9 SMP IT sekaligus santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah.

Sidang tasmi’ ini merupakan tahapan verifikasi hafalan Al-Qur’an secara maraton sekali duduk (majlis wahid) yang menguji ketuntasan tiga juz pilihan, yakni Juz 1, Juz 29, dan Juz 30. Acara dibuka dengan khidmat oleh pembawa acara Muhammad Zaki Alfikri. Turut hadir mendampingi di barisan depan, kedua orang tua Ananda Rifqi yang sengaja datang memenuhi undangan dewan penguji.  Di meja sidang, prosesi pengujian dipandu langsung oleh guru pembimbing tahfidz Ustazah Urwatul Wutsqo, serta dewan penyidang yang menyimak dengan teliti: Ustazah Hj. Mas’udah selaku penyidang Juz 1 dan Juz 29, serta Ustaz Ariq Alfalah Yusuf selaku penyidang Juz 30. Majelis ini juga disaksikan oleh jajaran penasihat dan asatidz yayasan, di antaranya KH. Ahmad Yani Nafis HM, Ustaz Sugianto, Ustaz Irfan Mahendra (Ketua DTQ Ash-Shiddiqiyyah), Ustaz Syahir Syahrudin, dan Ustaz Edi Hamdi WHD.

Prosesi pengujian dimulai ketika Ananda Rifqi membuka bacaan ta’awwudz dan basmalah, membacakan Surah Al-Fatihah lalu menyambungnya dengan pembuka Surah Al-Baqarah pada Juz 1. Mas’udah hingga Juz 1 rampung dibacakan. Tanpa beranjak dari panggung ujian, Ananda Rifqi langsung beralih melantunkan Juz 29 yang diawali dari Surah Al-Mulk hingga Surah Al-Mursalat. Begitu Juz 29 tuntas, estafet penyidang diserahkan kepada Ustaz Ariq Alfalah Yusuf untuk menguji Juz 30 dari Surah An-Naba’ hingga Surah An-Nas secara berurutan.

Perintah melafalkan Al-Qur’an secara tartil, teliti, dan beradab berpijak langsung pada wahyu Allah ta’ala:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4).

Kemudahan Kitabullah untuk dihafal dan diresapi maknanya ditegaskan Allah ta’ala sebagai pintu peringatan bagi umat manusia:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Bagi mereka yang mendedikasikan waktu dan kesungguhannya untuk melazimkan Kitabullah, Allah ta’ala menjanjikan ganjaran perniagaan abadi:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).

Keutamaan melantunkan ayat suci ditegaskan Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya mengenai pahala berlipat ganda pada setiap huruf:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat semisalnya. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi No. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

Lebih dari itu, Al-Qur’an kelak menjadi pembela sejati di hari perhitungan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804, dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu).

Bagi kedua orang tua yang ikhlas membimbing dan membiayai anak-anaknya mempelajari wahyu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan kemuliaan tiada tara:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا

“Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia.” (HR. Abu Dawud No. 1453, dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu).

Setelah Ananda Rifqi merampungkan Surah An-Nas dan bacaan tashdiq, doa khotmil Qur’an dipimpin oleh Ustaz Syahir Syahrudin. Lantunan doa Allahummarhamna bil Qur’an diiringi permohonan tulus agar hafalan tersebut menjadi wasilah keberkahan bagi keluarga, kesembuhan bagi yang sakit, serta pembuka jalan kemudahan bagi santri menuju hafalan mutqin 30 juz .

Sesi berlanjut pada penyampaian taujih “Spirit of Al-Qur’an” oleh Penasihat Yayasan, KH. Ahmad Yani Nafis HM. Dengan gaya tutur khas pesantren yang komunikatif, segar, dan sarat analogi, beliau mengingatkan para santri tentang dahsyatnya mukjizat Al-Qur’an yang mendatangkan ketenangan jiwa, penawar kegelisahan, dan pembuka pintu rezeki yang tak terduga (min haitsu la yahtasib) . Beliau menyelipkan kisah hikmah kecerdasan Abu Nawas yang memecahkan perkara dengan kejujuran dan akal budi, seraya berpesan bahwa santri penghafal Al-Qur’an harus tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, jujur, rajin menuntut ilmu, dan berbakti kepada orang tua.

Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, sidang tasmi’ sekali duduk mencerminkan pengamalan metode talaqqi dan musyafahah yang ketat. Mengutip penuturan Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, pembacaan Al-Qur’an di hadapan guru yang mutqin bertujuan memastikan kemurnian bacaan dari kekeliruan samar (lahn khafi), menyambungkan mata rantai sanad, serta memupuk sifat tawadhu’. Penghafal Al-Qur’an diajarkan untuk tidak cepat berpuas diri, melainkan memandang hafalan sebagai titipan amanah yang menuntut disiplin muraja’ah seumur hidup.

Ditinjau dari perspektif psikologi kognitif (cognitive psychology), menuntaskan tiga juz secara maraton tanpa bantuan visual teks menuntut ketahanan atensi eksekutif (sustained executive attention) yang prima. Otak santri dipaksa mengelola penarikan memori verbal jangka panjang (long-term retrieval) sembari menekan rasa lelah, kecemasan dinilai di depan publik (evaluation anxiety), serta potensi interferensi antarayat serupa (mutasyabihat). Keberhasilan melintasi beban kognitif tinggi ini merefleksikan terbentuknya regulasi diri (self-regulation) dan ketabahan mental (grit), keterampilan psikologis fundamental yang lahir dari kebiasaan disiplin mengulang hafalan di pesantren.

Menjelang akhir acara, Ustaz Edi Hamdi WHD memimpin doa penutup . Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas capaian Ananda Rifqi, seraya mengingatkan seluruh santri yang hadir bahwa keberhasilan ini harus menjadi motivasi pemacu semangat. Beliau mendoakan agar capaian tiga juz ini menjadi pintu pembuka bagi Ananda Rifqi untuk terus melangkah menyelesaikan 30 juz secara mutqin, serta mendatangkan limpahan rezeki halal dan keberkahan bagi kedua orang tuanya.

Sidang tasmi’ 3 juz Muhammad Rifqi Abdillah di Aula Hj. Sunenti membuktikan bahwa keberhasilan tarbiyah Al-Qur’an adalah buah dari keselarasan tiga pilar: tekad baja seorang santri, ketelatenan bimbingan dewan guru, dan untaian doa kedua orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *