ashfest 2026 2 Asfest 2026
Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ)

Gema Lima Juz di Aula Hj. Sunenti: Hussain Ali Ahmad Pachruzi Tuntaskan Sidang Tasmi’ Perdana di Ash-Shiddiqiyyah

DTQ · Jumat, 9 Oktober 2026 | 17:30 WIB

Menyetorkan hafalan satu atau dua juz mungkin sudah menjadi rutinitas berat bagi kebanyakan pelajar, namun merangkai lima juz secara maraton sekali duduk di hadapan para penyidang adalah ujian ketahanan mental dan spiritual tingkat tinggi yang menguji batas kesabaran seorang santri remaja.

Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema khidmat memenuhi Aula Hj. Sunenti di kompleks Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah pada Jumat, 12 Juni 2026. Berdasarkan dokumentasi resmi kanal YouTube Santri Ash-Shiddiqiyyah, sebuah agenda evaluasi keilmuan yang monumental digelar melalui Sidang Tasmi’ Hifdzil Qur’an 5 Juz Sekali Duduk. Santri yang menjalani ujian verifikasi hafalan berskala besar kali ini adalah Ananda Hussain Ali Ahmad Pachruzi, siswa kelas 9 SMP IT sekaligus santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah.

Sidang tasmi’ bil ghaib ini menjadi pencapaian tersendiri karena menuntut pelafalan lima juz secara berkesinambungan (majlis wahid) tanpa melihat mushaf, mencakup rentang Juz 1, 2, 3, 29, dan 30. Acara dibuka secara resmi oleh pembawa acara Muhammad Zaki Alfikri. Di barisan kursi depan panggung, kedua orang tua Ananda Hussain hadir mendampingi dan memberikan dukungan moril secara langsung. Meja pengujian diisi oleh jajaran dewan asatidz yang bergantian menyimak setoran hafalan dengan ketat: dipandu oleh guru pembimbing tahfidz Ustazah Urwatul Wutsqo, serta dewan penyidang yang meliputi Ketua DTQ Ash-Shiddiqiyyah Ustaz Irfan Mahendra, Ustazah Hj. Mas’udah, dan Ustaz Ariq Alfalah Yusuf. Perhelatan ini turut disaksikan oleh para penasihat dan jajaran asatidz yayasan, di antaranya KH. Ahmad Yani Nafis HM, Ustaz Sugianto, Ustaz Syahir Syahrudin S.Ag., dan Ustaz Edi Hamdi WHD.

Ujian dimulai tatkala Hussain melafalkan ta’awwudz dan basmalah, membuka Surah Al-Fatihah lalu menyambungnya dengan awal Surah Al-Baqarah pada Juz 1. Aliran ayat demi ayat mengalir tartil di bawah pengawasan penyidang pertama, Ustaz Irfan Mahendra. Usai menuntaskan Juz 1, pengujian berlanjut ke Juz 2 dan Juz 3 secara estafet, menguji ketepatan hukum tajwid, makharijul huruf, serta kelancaran perpindahan ayat-ayat mutasyabihat. Memasuki sesi berikutnya, pengujian beralih ke Juz 29 dan Juz 30, di mana Hussain memperdengarkan surah-surah pendek dan juz amma dengan kefasihan yang terjaga hingga Surah An-Nas.

Membaca dan melafalkan Al-Qur’an secara tertib, jelas, dan penuh kekhusyukan merupakan perintah langsung dari Allah ta’ala di dalam kitab-Nya:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4).

Kemudahan Al-Qur’an untuk dihafal dan diresapi maknanya telah dijaminkan sebagai bahan peringatan bagi umat manusia:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“And sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Dedikasi seorang remaja dalam menjaga kalam Ilahi merupakan wujud perniagaan batin yang tidak akan pernah merugi:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).

Keutamaan melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dijamin mendatangkan syafaat agung di yaumil akhir, sebagaimana sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804, dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu).

Bagi orang tua yang setia mendampingi dan memfasilitasi anaknya dalam menuntut ilmu agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan anugerah mahkota kemuliaan di akhirat:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا

“Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia.” (HR. Abu Dawud No. 1453, dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu).

Begitu Surah An-Nas tuntas dilafalkan, suasana majelis diliputi rasa syukur yang mendalam. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa khotmil Qur’an yang dipimpin oleh Ustaz Syahir Syahrudin S.Ag. Lantunan doa Allahummarhamna bil Qur’an dipanjatkan secara serempak, memohon keberkahan bagi hafalan Ananda Hussain serta limpahan rahmat dan kesembuhan bagi keluarga besar pesantren yang sedang diuji.

Sesi taujih “Spirit of Al-Qur’an” kemudian disampaikan oleh Penasihat Yayasan, KH. Ahmad Yani Nafis HM. Dalam uraiannya yang bernas dan komunikatif, beliau mengingatkan para santri tentang pentingnya istiqamah dalam menuntut ilmu serta keteladanan akhlak para salafus salih, seperti kisah pengorbanan Uwais al-Qarni dalam berbakti kepada ibunya. Beliau menegaskan bahwa kemuliaan hidup seorang santri tidak diukur dari gelimang materi semata, melainkan dari keberkahan ilmu dan kedekatannya kepada Al-Qur’an.

Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, ujian hafalan dengan metode tasmi’ di hadapan para asatidz berakar pada prinsip transmisi talaqqi dan musyafahah. Mengutip ajaran Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, Al-Qur’an adalah amanah sanad yang harus disetorkan secara lisan kepada guru yang mutqin agar terpelihara dari kesalahan tajwid dan makhraj. Prosesi ini mendidik santri untuk memiliki kerendahan hati (tawadhu‘) dan kesadaran bahwa hafalan Al-Qur’an menuntut penjagaan muraja’ah secara kontinu sepanjang hayat.

Ditinjau dari perspektif psikologi kognitif remaja (adolescent cognitive psychology), keberhasilan seorang santri SMP menyelesaikan lima juz secara maraton tanpa teks memperlihatkan kematangan fungsi eksekutif otak dan ketahanan atensi (sustained attention). Pada fase remaja, kapasitas memori kerja (working memory) dan kontrol inhibisi diuji secara optimal di bawah tekanan evaluasi publik. Kemampuan Hussain duduk tenang selama berjam-jam mempertahankan fokus mencerminkan terbentuknya ketetapan regulasi diri (self-regulation) dan ketabahan mental (grit) yang ditempa melalui habituasi harian di asrama pesantren.

Sidang tasmi’ 5 juz yang dijalani Hussain Ali Ahmad Pachruzi di Aula Hj. Sunenti membuktikan bahwa ketekunan belajar di pesantren mampu melahirkan generasi muda yang tangguh secara spiritual dan intelektual. Ujian di atas panggung telah paripurna, namun perjalanan merawat kalam Ilahi baru saja melangkah ke lembar berikutnya: menjaga ayat-ayat suci tersebut tetap hidup di dalam dada dan menuntun langkah pengabdian di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *