ashfest 2026 2 Asfest 2026
Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ)

Duduk dari Subuh hingga Sore, Nur Raisya Hamdi Tuntaskan Tasmi’ 15 Juz Sekali Duduk!

DTQ · Jumat, 9 Oktober 2026 | 20:53 WIB

Membaca satu juz Al-Qur’an saja sering membuat mata kita mengantuk dan punggung terasa pegal, namun di Masjid Ash-Shiddiqiyyah, seorang siswi Madrasah Aliyah membuktikan ketahanan luar biasa dengan melantunkan tiga ratus halaman kalam Ilahi tanpa henti dalam satu kali duduk.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, rekan-rekan pendidik, para santri, dan sahabat pembaca yang berbahagia.

Suasana hening yang syahdu menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Ash-Shiddiqiyyah sejak fajar merekah. Tidak seperti hari-hari biasa, sebuah agenda besar yang menguji batas ketahanan fisik, fokus mental, dan kejernihan memori digelar di hadapan dewan asatidz. Seorang santriwati tangguh, Adinda Nur Raisya Hamdi—atau yang akrab disapa Eca—melangkah ke panggung sidang untuk memperdengarkan hafalan Al-Qur’an sebanyak lima belas juz secara berurutan dalam sekali duduk (majlis wahid).

Peristiwa ini secara resmi menorehkan tinta emas dan mencatatkan sejarah baru bagi Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah. Sejak lembaga ini didirikan pada awal tahun 2011 silam, inilah kali pertama ada seorang santri yang berhasil menuntaskan sidang tasmi’ bil ghaib sebanyak 15 juz dalam satu majelis maraton tanpa membuka mushaf.

Nur Raisya Hamdi, yang merupakan siswi Madrasah Aliyah Unggulan sekaligus putri tercinta dari Ustaz Edi Hamdi dan Ustazah Siti Nur Amimah, tumbuh besar bersama derap langkah perkembangan pesantren ini. Di hadapan meja pengujian yang disimak secara teliti oleh guru pembimbing tahfidz Ustazah Urwatul Wutsqo, Ustazah Hj. Mas’udah, serta tim penilai Ustaz Ariq Alfalah Yusuf, Eca duduk bersila sejak pukul enam pagi selepas subuh hingga menjelang waktu ashar tiba.

Rentang ayat yang diperdengarkan bukan main-main. Ratusan surah dialirkan secara tartil menyusuri surah-surah panjang di awal mushaf hingga juz-juz pilihan lainnya. Total ada sekitar 300 halaman mushaf standar yang meluncur lancar dari ingatan batinnya. Uniknya, akselerasi hafalan ini dirampungkan dalam kurun waktu yang sangat padat, yakni sekitar dua bulan intensif dengan target setoran mencapai empat halaman per hari—sebuah ritme belajar yang membutuhkan kedisiplinan waktu yang sangat ketat dan kebiasaan bangun di sepertiga malam untuk muraja’ah.

Melihat dedikasi yang begitu kokoh pada usia muda, kita disadarkan pada kebenaran kalam Allah ta’ala mengenai jaminan kemudahan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh mendekati wahyu-Nya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Ketekunan menjaga kalam suci ini merupakan bentuk perniagaan ruhani yang nilainya abadi melampaui capaian materi duniawi:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menegaskan bahwa ayat-ayat yang dihafal dengan penuh perjuangan kelak akan menjadi pembela setia di hari kiamat:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804).

Ditinjau dari perspektif psikologi kognitif dan ilmu faal, mempertahankan atensi terpusat (sustained executive attention) selama lebih dari enam jam dalam tugas pemanggilan memori verbal terstruktur (working memory retrieval) menuntut kapasitas regulasi diri (self-regulation) yang berada di atas rata-rata. Pada fase remaja, otak rentan mengalami kejenuhan mental (mental fatigue) ketika berhadapan dengan ribuan baris informasi yang memiliki kemiripan redaksi (mutasyabihat). Kemampuan Eca meredam distraksi lingkungan dan mengelola kecemasan performa menunjukkan terbentuknya karakter grit yang matang hasil habituasi hidup di asrama.

Ketika lembaran ayat ke-15 juz tuntas dibacakan, suasana ruangan seketika mencair dalam keharuan yang mendalam. Tetesan air mata yang mengalir di pipi penguji, orang tua, dan santri yang menyimak bukanlah tangisan kesedihan, melainkan wujud luapan emosi bahagia pada derajat tertinggi (dimorphous expression of emotion), saat kata-kata dan senyuman tak lagi cukup mewakili rasa syukur kepada Allah ta’ala.

Dalam sesi taujih “Spirit of Al-Qur’an”, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah, Ustaz Adi Nurseha, Lc., M.Pd., menyampaikan pesan kelembagaan yang sarat visi masa depan. Beliau memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru pembimbing yang tanpa lelah menyimak setoran demi setoran. Ustaz Adi menegaskan bahwa pencapaian 15 juz ini bukanlah garis finis, melainkan batu loncatan penting. Beliau mematok target agar Eca mampu menggenapkan sisa 15 juz berikutnya secara bertahap hingga khatam 30 juz mutqin sebelum melanjutkan studi perguruan tinggi ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa khotmil Qur’an yang dipimpin oleh guru pembimbing Ustazah Urwatul Wutsqo, disusul doa penutup penuh berkah oleh Ustaz Syahir Syahrudin, S.Ag. Seluruh hadirin serempak mengaminkan permohonan agar hafalan ini menjadi wasilah keselamatan keluarga, keberkahan bagi yayasan, dan pemantik semangat bagi santri lainnya untuk meraih level hafalan yang sama.

Catatan sejarah di PPTQ Ash-Shiddiqiyyah ini membuktikan bahwa pendidikan madrasah dan pesantren mampu mencetak generasi yang tangguh secara spiritual dan intelektual. Tiga ratus halaman wahyu telah terpatri kokoh di dada, menjadi suluh penerang jalan bagi Ananda Nur Raisya Hamdi dalam menapaki cita-cita luhurnya menjadi pengemban ilmu agama yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *