Gema Tiga Juz Santriwati Cilik: Nafisha Al Safaraz Tuntaskan Sidang Tasmi’ di Aula Hj. Sunenti Ash-Shiddiqiyyah
Banyak orang mengira anak usia sekolah dasar belum memiliki ketahanan fokus untuk menuntaskan ujian berat, namun di hadapan meja penyidang, seorang siswi kelas enam membuktikan bahwa ribuan ayat suci mampu mengalir tenang dari dadanya selama berjam-jam tanpa membuka mushaf.
Lantunan bait-bait Al-Qur’an mengalun khidmat memenuhi Aula Hj. Sunenti di kompleks Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah. Berdasarkan siaran dokumentasi resmi kanal YouTube Santri Ash-Shiddiqiyyah, sebuah agenda evaluasi keilmuan digelar melalui Sidang Tasmi’ Hifdzil Qur’an 3 Juz Sekali Duduk. Peserta yang diuji dalam majelis ini adalah Adinda Nafisha Al Safaraz, siswi kelas 6 SDIT sekaligus santriwati Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah.
Sidang tasmi’ bil ghaib ini bukan sekadar uji petik ayat secara acak, melainkan pembacaan hafalan secara berkesinambungan sekali duduk (majlis wahid) yang meliputi rentang tiga juz padat: Juz 28, Juz 29, dan Juz 30. Acara dibuka secara resmi oleh pembawa acara Rahel Rahmadani, siswi Madrasah Aliyah Unggulan Ash-Shiddiqiyyah. Di barisan depan panggung, ayahanda dari Adinda Nafisha, yakni Bapak H. Arif Wibowo, hadir secara langsung mendampingi putrinya. Meja pengujian diisi oleh jajaran pendidik yang menyimak dengan saksama: guru pembimbing tahfidz Ustazah Urwatul Wutsqo, dewan penyidang Juz 28 dan Juz 29 yakni Ustazah Hj. Mas’udah, serta dewan penyidang Juz 30 yakni Ustaz Ariq Alfalah Yusuf. Agenda ini turut disaksikan oleh dewan penasihat dan jajaran pimpinan yayasan, di antaranya KH. Ahmad Yani Nafis HM, Ustaz Sugianto, Ketua DTQ Ash-Shiddiqiyyah Ustaz Irfan Mahendra, Ustaz Syahir Syahrudin, dan Ustaz Edi Hamdi WHD.
Ujian dimulai saat Nafisha melafalkan ta’awwudz dan basmalah untuk membuka Surah Al-Mujadilah pada Juz 28. Konsentrasi ruangan terjaga rapat ketika santriwati belia tersebut melantunkan deretan surah-surah musabbihat dan hukum keluarga dalam Juz 28—mulai dari Surah Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, At-Taghabun, Ath-Thalaq, hingga At-Tahrim—yang disimak kata demi kata oleh Ustazah Hj. Mas’udah. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, ujian langsung bersambung ke Juz 29, diawali kemegahan Surah Al-Mulk hingga Surah Al-Mursalat. Usai merampungkan Juz 29, dewan penyidang berganti kepada Ustaz Ariq Alfalah Yusuf untuk menyimak pembacaan Juz 30 secara utuh, mulai dari Surah An-Naba’ hingga Surah An-Nas.
Membaca Al-Qur’an secara tertib, jelas makhrajnya, dan penuh ketenangan merupakan titah langsung dari Allah ta’ala di dalam wahyu-Nya:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4).
Kemudahan Al-Qur’an untuk dihafal dan diresapi maknanya bahkan oleh anak-anak usia belia merupakan tanda kekuasaan Allah ta’ala yang nyata:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).
Ketekunan seorang anak dalam mendedikasikan masa kecilnya untuk mempelajari kalam Ilahi menjadi jalan perniagaan batin yang abadi bagi dirinya dan keluarganya:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29–30).
Keutamaan melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dilipatgandakan pahalanya pada setiap huruf yang terucap, sebagaimana sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat semisalnya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2910, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).
Lebih agung dari itu, Al-Qur’an yang dijaga hafalannya akan hadir membela pembacanya pada hari kiamat:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804, dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu).
Bagi orang tua yang setia mendampingi dan memfasilitasi anak-anaknya dalam mempelajari Al-Qur’an, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan anugerah mahkota kemuliaan di akhirat:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا
“Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia.” (HR. Abu Dawud No. 1453, dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu).
Begitu Surah An-Nas dan bacaan tashdiq tuntas dilafalkan, rasa syukur menyelimuti seluruh ruangan. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa khotmil Qur’an yang dipimpin oleh Ustaz Syahir Syahrudin. Lantunan doa Allahummarhamna bil Qur’an dipanjatkan secara serempak, mendoakan kesembuhan bagi keluarga guru yang sedang sakit, serta memohon agar setiap huruf yang dibaca Nafisha menjadi wasilah kemudahan baginya untuk menggenapkan hafalan mutqin hingga 30 juz.
Sesi taujih “Spirit of Al-Qur’an” kemudian disampaikan oleh Penasihat Yayasan, KH. Ahmad Yani Nafis HM. Dalam untaian nasihatnya yang komunikatif dan sarat pesan moral, beliau mengangkat refleksi pentingnya membangun kedisiplinan intelektual dan spiritual sejak usia dini. Beliau menuturkan kisah inspiratif tokoh bangsa BJ Habibie tentang kebiasaan bangun di sepertiga malam untuk beribadah dan membaca Al-Qur’an sebagai sumber kejernihan akal dan keberkahan hidup. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an mendidik pribadi manusia untuk cerdas, berintegritas, dan berakhlak mulia. Beliau berpesan agar para santri terus bersemangat menuntut ilmu, seraya mengingatkan bahwa menjadi orang penting itu baik, tetapi menjadi orang yang baik dan berpegang pada Al-Qur’an jauh lebih penting.
Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, ujian hafalan dengan metode tasmi’ di hadapan para asatidz berakar pada prinsip transmisi talaqqi dan musyafahah. Mengutip ajaran Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, Al-Qur’an adalah amanah sanad yang harus disetorkan secara lisan kepada guru yang ahli agar terpelihara dari kesalahan tajwid dan makhraj. Prosesi ini sekaligus mendidik santriwati untuk bersikap tawadhu’ dan memahami bahwa hafalan Al-Qur’an bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah syariat yang menuntut penjagaan muraja’ah secara berkesinambungan.
Ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan kognitif, keberhasilan seorang anak usia 11–12 tahun melafalkan tiga juz secara kontinu tanpa teks memperlihatkan kematangan fungsi eksekutif otak (executive functioning) yang luar biasa. Pada fase peralihan dari operasional konkret menuju operasional formal, kapasitas memori kerja (working memory) dan ketahanan atensi (sustained attention) seorang anak diuji secara maksimal. Duduk tenang selama berjam-jam di hadapan dewan penyidang menuntut regulasi diri (self-regulation) yang kuat untuk meredam kecemasan performa (performance anxiety) serta menahan kelelahan fisik. Ketahanan ini membuktikan terbentuknya karakter grit—ketekunan jangka panjang yang terbangun melalui rutinitas pembiasaan di pesantren.
Menjelang akhir acara, doa penutup dipimpin oleh Ustaz Edi Hamdi WHD. Beliau menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi mendalam kepada Adinda Nafisha Al Safaraz serta ayahandanya, Bapak H. Arif Wibowo. Beliau mengingatkan para santri yang hadir bahwa capaian ini harus menjadi pemicu motivasi bagi santri lainnya. Ustaz Edi menegaskan kembali tiga pilar utama bagi setiap penghafal Al-Qur’an: istiqamah dalam menjaga niat, ketekunan muraja’ah bersama guru, dan ketergantungan mutlak pada doa kepada Allah ta’ala.
Sidang tasmi’ 3 juz yang dijalani Nafisha Al Safaraz di Aula Hj. Sunenti membuktikan bahwa usia belia bukanlah halangan untuk meraih ketahanan hafalan Al-Qur’an yang berbobot. Pencapaian ini lahir dari perpaduan tekad kuat seorang santriwati cilik, ketelatenan bimbingan para ustazah, serta ketulusan doa dan dukungan orang tua.
Ujian di atas panggung telah selesai, namun ikhtiar merawat ayat-ayat suci baru saja melangkah ke babak berikutnya: menjaga kalam Ilahi agar senantiasa hidup di dalam dada dan menuntun perilaku sehari-hari dengan akhlak mulia.
Berita Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ) Lainnya