Semarak Merah Putih di Beranda Santri: TPQ Ash-Shiddiqiyyah Gelar Ragam Lomba Sambut HUT NKRI ke-81
Melihat santri tekun mengeja huruf hijaiyah di atas meja rihal adalah pemandangan lazim sehari-hari, tetapi menyaksikan mereka bersorak riang berebut menggigit kerupuk yang tergantung di ujung bilah bambu memperlihatkan sisi lain dunia santri: bahwa cinta tanah air dan kegembiraan masa kecil tumbuh mekar di serambi pesantren.
Pelataran berlantai motif kayu di kompleks Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah berubah riuh penuh tawa dan sorak gembira. Berada persis di bawah bentangan plang identitas ungu bertuliskan “Ash-Shiddiqiyyah Islamic School: Membina Generasi Mencetak Ruh Qur’ani”, puluhan santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) bersama dewan asatidz berkumpul menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.
Dokumentasi visual memperlihatkan atmosfer kebersamaan yang sangat kental dengan dominasi warna merah putih. Para santriwati mengenakan kerudung merah dipadu busana serasi, sementara santriwan tampil kasual mengenakan kaos merah dan peci hitam. Mengawal jalannya aneka kompetisi rakyat, para ustaz dan panitia tampak kompak mengenakan kemeja lapangan lengan panjang berwarna merah marun, aktif mengarahkan barisan santri, memegang bilah bambu perlombaan, hingga mengabadikan momen lewat gawai mereka.
Salah satu titik paling meriah tersaji pada pos perlombaan makan kerupuk dengan konsep unik. Berbeda dari lomba makan kerupuk gantung tali biasa, di TPQ Ash-Shiddiqiyyah kerupuk putih dikaitkan pada seutas tali yang diikatkan di ujung bilah bambu panjang. Para peserta cilik duduk bersila di atas kursi kecil, dituntut menjaga keseimbangan seraya mendongakkan kepala berusaha menggigit kerupuk yang bergoyang digerakkan oleh tali pembina. Gelak tawa para guru dan teman sebaya meledak tatkala santri berusaha keras mengunci gigitan tanpa bantuan tangan.
Keseruan tak kalah seru terlihat di pos ketangkasan fisik dan koordinasi motorik lainnya. Tampak kelompok santriwati dengan kompak berdiri berhadapan menguji kekompakan melempar dan menangkap balon merah muda ke dalam keranjang plastik yang digendong di punggung rekannya. Di sudut lain, antrean santri cilik berbaris tertib memegang gelas plastik bening di samping wadah boks putih besar berisi air untuk mengikuti lomba estafet air, memperlihatkan keceriaan basah-basahan yang membangkitkan rasa kebersamaan.
Peringatan kemerdekaan dan rasa syukur atas kedamaian tanah air memiliki sandaran normatif yang tegas dalam wahyu Ilahi. Allah ta’ala menyeru manusia untuk mengenang dan menyukuri limpahan kemakmuran negerinya:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun’.” (QS. Saba’: 15).
Janji pelipatgandaan nikmat bagi hamba yang senantiasa bersyukur ditegaskan pula dalam ayat lain:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.” (QS. Ibrahim: 7).
Kecintaan mendalam terhadap tanah kelahiran dan tempat bernaung merupakan fitrah mulia yang dicontohkan langsung oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menatap tanah suci Makkah:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
“Alangkah indahnya dirimu sebagai sebuah negeri, dan betapa engkau sangat kucintai. Sekiranya kaumku tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan pernah tinggal di negeri selainmu.” (HR. At-Tirmidzi No. 3926).
Menghadirkan kegembiraan dan tawa bagi anak-anak kecil melalui sarana permainan yang sehat pun dinilai sebagai salah satu amalan pembuka ampunan Allah ta’ala, sebagaimana sabda Baginda Nabi:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ دَارًا يُقَالُ لَهَا دَارُ الْفَرَحِ، لَا يَدْخُلُهَا إِلَّا مَنْ فَرَّحَ الصِّبْيَانَ
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat suatu tempat yang disebut Darul Farah (rumah kegembiraan), yang tidak akan memasukinya melainkan orang-orang yang senantiasa membahagiakan anak-anak kecil.” (HR. At-Tabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath No. 5047, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha).
Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, doktrin kebangsaan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) bukanlah sekadar semboyan di atas kertas. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin menegaskan bahwa memberikan ruang bermain (al-la’ib) bagi anak-anak setelah menunaikan kewajiban belajar adalah perkara yang sangat dianjurkan. Permainan yang menggembirakan menyegarkan kembali daya konsentrasi, melatih kelenturan tubuh, serta mencegah anak dari kejenuhan batin. Para ulama pesantren mengajarkan bahwa merayakan kemerdekaan bangsa melalui lomba-lomba kerakyatan yang santun merupakan ekspresi tahadduts bin ni’mah—mensyukuri jasa perjuangan para pahlawan dan ulama yang telah mengorbankan jiwa raga demi tegaknya kedaulatan Indonesia.
Ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan anak (developmental psychology), metode pembelajaran berbasis permainan (play-based activity) memainkan peran esensial dalam menstimulasi fungsi eksekutif otak. Lomba menggigit kerupuk melatih koordinasi mata, leher, dan mulut (fine & gross motor control) di bawah tekanan waktu, menuntut anak mengendalikan dorongan impulsif agar tidak tergesa-gesa. Sementara itu, lomba lempar balon dan estafet air mengasah kemampuan kolaborasi sosial (cooperative play), melatih empati sebaya, serta menumbuhkan sportivitas: menerima kekalahan dengan lapang dada dan merayakan kemenangan teman tanpa rasa jumawa.
Puncak dari peringatan HUT NKRI ke-81 di TPQ Ash-Shiddiqiyyah ini menyatukan dua pilar penting: kecintaan pada Al-Qur’an dan kecintaan pada tanah air. Tawa riang anak-anak di bawah bimbingan para ustaz membuktikan bahwa pendidikan Islam yang berkarakter tidak pernah memisahkan agama dari realitas kebangsaan.
Ketika perlombaan usai dan debu di pelataran mereda, para santri kembali ke rutinitas mengaji dengan hati yang lebih segar dan semangat yang kian menyala. Hadiah dan kerupuk yang dinikmati hari ini menjadi pengingat manis bahwa negeri yang merdeka adalah anugerah Ilahi yang harus mereka jaga kelak dengan ilmu, amal, dan akhlakul karimah.
Dari halaman TPQ Ash-Shiddiqiyyah, merah putih terus berkibar di angkasa, berpadu abadi dengan lantunan ayat-ayat suci yang berdenyut di dada generasi penerus bangsa.
📸 Galeri Liputan