ashfest 2026 2 Asfest 2026
Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Ash-Shiddiqiyyah

Raga Bugar Jiwa Qur’ani: Serunya Latihan Futsal Santri TPQ Ash-Shiddiqiyyah di Lapangan Terbuka

TPQ · Jumat, 9 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Melihat santri cilik duduk bersila menghadap meja rihal adalah pemandangan yang meneduhkan, namun menyaksikan mereka berdiri berjejer dengan jersey bola siap mengolah si kulit bundar memperlihatkan satu pesan penting: seorang mukmin sejati tidak hanya diasah kefasihan lisannya, tetapi juga ditempa kekuatan raganya.

Sinar matahari sore menyinari lapangan olahraga terbuka di lingkungan Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah. Di atas lapangan beralas semen dengan garis putih melengkung di tengahnya, puluhan santri putra Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Ash-Shiddiqiyyah berdiri rapi membentuk barisan panjang. Berlatar belakang jaring pengaman dan deretan bangunan rumah di sekitarnya, mereka berkumpul untuk mengikuti agenda rutin ekstrakurikuler futsal.

Berdasarkan dokumentasi foto kegiatan, antusiasme terpancar jelas dari penampilan para santri cilik dan remaja. Mereka mengenakan aneka jersey klub sepak bola berwarna-warni, mulai dari corak garis merah-hitam, biru, hitam polos, kuning emas, hingga merah putih. Sebagian besar santri telah melengkapi diri dengan sepatu futsal, kaos kaki panjang, dan celana olahraga, sementara beberapa santri tetap mengenakan peci hitam di kepala, mencerminkan identitas kesantrian yang tetap melekat erat meski berada di arena olahraga.

Kegiatan ekstrakurikuler futsal ini menjadi ruang penyaluran energi positif bagi santri setelah menuntaskan pembelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an di ruang kelas. Melalui latihan menggiring, mengoper, dan menembak bola, para santri diajak bergerak aktif di bawah pantauan pembina lapangan. Latihan ini membuktikan bahwa pembinaan generasi Qur’ani di TPQ Ash-Shiddiqiyyah berjalan seimbang antara olah batin dan olah raga.

Dalam tinjauan Islam, kekuatan fisik dan kebugaran tubuh dipandang sebagai modal utama penopang amanah kepemimpinan dan ibadah. Al-Qur’an menegaskan bahwa keunggulan seseorang tercermin dari perpaduan keluasan ilmu pengetahuan dan kekuatan fisik, sebagaimana firman Allah ta’ala mengenai pengangkatan Thalut:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya keluasan ilmu dan keperkasaan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247).

Perintah untuk mempersiapkan ketangguhan dan kekuatan raga juga dinyatakan secara eksplisit dalam ayat lain:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60).

Kebugaran fisik seorang muslim memiliki kedudukan luhur di sisi Allah ta’ala, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

 

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim No. 2664, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, pendidikan santri bertumpu pada prinsip tawazun (keseimbangan). Santri tidak hanya dituntut memiliki ketajaman daya hafal (hifzhul Qur’an) dan pemahaman adab, tetapi juga fisik yang sehat agar tidak mudah terserang penyakit saat menjalani rutinitas riyadhah keilmuan. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menegaskan bahwa memberikan kesempatan anak untuk berolahraga dan bermain fisik seusai belajar sangat penting untuk menjaga kesegaran pikiran. Beliau menuliskan bahwa melarang anak bergerak aktif dan memaksanya belajar terus-menerus tanpa jeda justru mematikan lentera hatinya dan merusak kecerdasannya.

Ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan anak dan ilmu faal (developmental psychology), olahraga beregu seperti futsal memberikan stimulasi signifikan bagi fungsi motorik kasar, kelincahan gerak (agility), serta daya tahan kardiovaskular. Di lapangan, anak-anak belajar menyelaraskan dorongan individu dengan kebutuhan tim (teamwork). Mereka mempraktikkan komunikasi sosial, membagi peran, menahan ego untuk mengoper bola, serta belajar menerima kekalahan maupun merayakan kemenangan dengan sikap sportif. Keterampilan regulasi diri (self-regulation) yang ditempa di lapangan hijau ini secara langsung membantu meningkatkan rentang atensi dan fokus anak ketika kembali duduk menyimak ayat-ayat Al-Qur’an.

Puncak dari kegiatan latihan futsal ini memperlihatkan wajah pendidikan TPQ yang segar dan dinamis. Di atas lapangan semen Ash-Shiddiqiyyah, barisan santri cilik menunjukkan bahwa mencintai Al-Qur’an tidak membuat mereka kehilangan keceriaan dunia anak.

Seusai peluit panjang berbunyi dan keringat membasahi jersey, para santri melangkah keluar lapangan dengan senyum puas. Kebugaran yang mereka petik sore itu menjadi bekal berharga untuk membasuh wajah dengan air wudhu, meluruskan saf shalat maghrib berjamaah, dan kembali mendaras kalam Ilahi dengan nafas yang lebih panjang dan raga yang lebih tegap.

Dari lapangan futsal Ash-Shiddiqiyyah, kita belajar bahwa mencetak pribadi Rabbani dimulai dari memuliakan seluruh anugerah ciptaan Allah: mengasah akal dengan ilmu, membersihkan hati dengan zikir, dan mengokohkan raga dengan ikhtiar olahraga yang terarah

📸 Galeri Liputan

×

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Ash-Shiddiqiyyah Lainnya