ashfest 2026 2 Asfest 2026
Pondok Pesantren Modern Ash-Shiddiqiyyah

“Santri Mengabdi”: Tradisi Shalat Ghaib dan Tahlilan Ash-Shiddiqiyyah untuk Warga Lingkungan

PONPES · Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:43 WIB

Pendidikan agama sering kali hanya diukur dari nilai ujian di atas kertas atau hafalan di dalam kelas. Namun, ujian sesungguhnya dari sebuah lembaga pendidikan Islam terlihat ketika ada tetangga atau keluarga dari lingkungan sekolah yang tertimpa musibah. Apakah para santri hanya diam di balik tembok pesantren, atau mereka turun tangan?

Unit Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah kembali menjalankan tradisi rutin mereka ketika ada warga atau bagian dari keluarga, dan warga yayasan yang berpulang. Maka, yayasan ini mengadakan kegiatan Shalat Ghaib, Tahlil, dan Yasin Akbar secara komunal di halaman Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB ini ditujukan untuk mendoakan yang almarhum-almarhumah wabilkhusus yang saat ini sadang berduka yaitu Bapak Maryanto Ismoyo bin Tumin Yatmo Maryoto (kakek dari salah satu siswi kelas 8 SMPIT Ash-Shiddiqiyyah) dan almarhumah Ibu Fita Haryatini binti Sudiono (ibunda dari Pengurus DKM Ash-Shiddiqiyyah).
Keduanya merupakan warga Kavling Telaga Indah RT 002. Shalat Ghaib ini melibatkan jamaah berskala besar dari satu yayasan penuh, mencakup jenjang RA, SDIT, SMPIT, MA Unggulan, serta warga sekitar yayasan. Dalam dokumentasi visual, terlihat seorang imam memimpin shalat di halaman terbuka, diikuti oleh barisan santri yang mengenakan jubah seragam dan peci hitam.

Tindakan ini memiliki pijakan fikih yang sangat kuat dalam tradisi Islam, khususnya mazhab Syafi’i yang menjadi rujukan utama Nahdlatul Ulama (NU). Pelaksanaan Shalat Ghaib disyariatkan berdasarkan tindakan Nabi Muhammad SAW ketika beliau memimpin shalat untuk Raja Najasyi (Ashhamah) yang wafat di Habasyah (Ethiopia), sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Muttafaq ‘Alaih. Secara sosiologis, pelibatan anak-anak sejak usia RA hingga MA dalam ritual ini adalah bentuk pembiasaan (habituation) agar mereka memahami kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya yang telah wafat.

Hal yang menjadi pembeda utama dalam tradisi Ash-Shiddiqiyyah adalah komitmen yang tidak terputus setelah jam sekolah selesai. Malam harinya, konsep “Santri Mengabdi” diwujudkan secara fisik di luar area pesantren. Delegasi santri ditugaskan untuk hadir langsung ke rumah duka. Pada malam hari, terlihat belasan santri mengenakan sarung, baju koko, dan peci khas ungu berlogo yayasan, duduk beralaskan karpet bersama bapak-bapak warga sekitar. Mereka memegang buku saku kecil, melaksanakan pembacaan Tahlil dan menderes Al-Qur’an (tadarus) di ruang tamu rumah duka.

Secara psikologis, kehadiran fisik sekelompok santri di rumah duka memberikan efek bantalan dukungan (social buffering) bagi keluarga yang ditinggalkan. Keluarga yang sedang mengalami duka (grief) sering kali merasa terisolasi. Kehadiran para santri yang datang untuk mendoakan menciptakan validasi sosial dan rasa kebersamaan, yang secara empiris terbukti membantu meringankan beban psikologis pada fase awal kehilangan.

Secara teologis, praktik mendoakan orang yang telah tiada merupakan perintah yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…'”
(QS. Al-Hasyr: 10).

Praktik Tahlilan dan tadarus Al-Qur’an di rumah duka juga sejalan dengan pandangan mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jama’ah tentang isyaal at-tsawab (sampainya pahala bacaan kepada mayit). Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan keutamaan membacakan Al-Qur’an bagi orang yang telah meninggal, di mana pahala dari bacaan tersebut diharapkan menjadi rahmat bagi almarhum. Bagi tradisi NU, majelis tahlil bukan sekadar ritual kematian, melainkan mekanisme konsolidasi sosial di mana tetangga berkumpul, saling menguatkan, dan menyedekahkan waktu serta doa.

Bagi Unit Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah, rangkaian kegiatan dari pagi hingga malam ini bukanlah insiden seremonial belaka. Ini adalah prosedur organik. Tradisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter di pesantren tidak hanya bergantung pada teori di dalam kelas. Ilmu fikih tentang kewajiban merawat jenazah dan ilmu akhlak tentang menghormati tetangga dipraktikkan secara langsung di lapangan.

Pada akhirnya, pesantren tidak bisa hidup terpisah dari masyarakat sekitarnya. “Santri Mengabdi” berarti santri harus responsif terhadap realitas sosial tetangganya. Pemahaman agama yang utuh tidak hanya membuahkan kecerdasan tekstual, tetapi juga kepedulian yang nyata saat warga lingkungan membutuhkan dukungan moral di masa duka.

Referensi:

  • Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 10.
  • Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim (Muttafaq ‘Alaih) tentang Shalat Ghaib untuk Raja Najasyi.
  • An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. (Konteks pandangan mazhab Syafi’i tentang sampainya pahala bacaan Al-Qur’an dan pelaksanaan Shalat Ghaib).

📸 Galeri Liputan

×

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekstrakurikuler & Aktivitas Pembelajaran Seru Pondok Pesantren Modern Ash-Shiddiqiyyah

Klik pada pamflet di bawah ini untuk memutar video keseruan ekstrakurikuler kami!

Pamflet Futsal (Ash-League) PONTREND

Futsal (Ash-League) PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Bulutangkis PONTREND

Bulutangkis PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Tenis Meja PONTREND

Tenis Meja PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Kajian Turots PONTREND

Kajian Turots PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Pidato Bahasa Arab PONTREND

Pidato Bahasa Arab PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Khutbah Jum’at PONTREND

Khutbah Jum’at PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Tausyiah & Puisi Islami PONTREND

Tausyiah & Puisi Islami PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Hadroh PONTREND

Hadroh PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
Pamflet Pramuka PONTREND

Pramuka PONTREND

⏳ Menunggu Rilis
×

Berita Pondok Pesantren Modern Ash-Shiddiqiyyah Lainnya