Menengok Khidmatnya Halaqah Belajar Santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah
Di tengah gempuran dunia digital yang serba instan dan bising, sebuah ruangan berpilar ungu dengan barisan meja kayu lipat membuktikan bahwa ketajaman ilmu dan kejernihan jiwa tetap lahir dari ketekunan bersila membalik lembaran mushaf.
Deru aktivitas di Pondok Pesantren (Pontrend) Ash-Shiddiqiyyah bergulir dalam keteraturan ritme yang terjaga rapi. Jauh dari hiruk-pikuk distraksi gawai, para santri putra dan santri putri membagi waktu mereka dalam rangkaian halaqah keilmuan yang berkesinambungan, sebagaimana terekam nyata dalam dokumentasi visual kegiatan harian: “Belajar Pagi Bersama” yang menyongsong awal hari, disusul “Tahsin dan Tahfidzul Qur’an Sore” menjelang senja.
Berdasarkan rekaman visual, suasana halaqah berlangsung sederhana namun sarat konsentrasi. Pada sesi “Belajar Pagi Bersama”, para santriwati berbusana muslimah dan santriwan berpeci duduk bersila dengan tertib di atas lantai beranda bertiang ungu yang lapang. Masing-masing santri menghadap meja kayu rihal lipat—meja khas pesantren yang dirancang untuk menjaga posisi tubuh tetap tegak dan adab terhadap kitab tetap terjaga. Beberapa santri terlihat menyimak catatan, mengulang hafalan secara mandiri, sementara santri lainnya duduk dalam formasi melingkar berhadapan dengan mushaf yang terbuka lebar.
Ketika matahari mulai condong ke barat, ruangan kembali dipadati untuk sesi “Tahsin dan Tahfidzul Qur’an Sore”. Santri putri dengan jilbab hitam dan seragam putih-hijau tekun memegang pena untuk mencatat hukum tajwid, mengoreksi makhraj huruf, serta melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Di sudut lain, para santri putra dengan peci hitam bertuliskan identitas almamater bersandar pada meja belajar masing-masing, menyimak setoran teman sebaya dan mengulang bait-bait wahyu dengan saksama. Kehadiran tas-tas santri berwarna hijau dan ransel yang tertata di samping meja memperlihatkan kedisiplinan ruang belajar yang rapi dan fungsional.
Pengaturan waktu belajar pada pagi dan petang hari bukanlah kebetulan administratif semata. Dalam perspektif Al-Qur’an, peralihan waktu dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari merupakan momentum istimewa untuk bertasbih, berzikir, dan meneguhkan orientasi hidup kepada Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ
“Maka bersabarlah engkau terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan setelah selesai shalat.” (QS. Qaf: 39–40).
Penegasan serupa juga termaktub dalam firman Allah ta’ala mengenai keberkahan waktu-waktu perbatasan hari:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ
“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya; dan bertasbihlah pula pada waktu-waktu di malam hari dan pada ujung-ujung siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS. Thaha: 130).
Aktivitas menuntut ilmu yang dimulai sejak fajar menyerap keberkahan doa yang secara khusus dipanjatkan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umatnya:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi hari mereka.” (HR. Abu Dawud No. 2606 dan At-Tirmidzi No. 1212, dari Shakhr al-Ghamidi radhiyallahu ‘anhu).
Kemuliaan berkumpul dalam majelis untuk membaca dan membenahi bacaan Al-Qur’an (tahsin wa tahfidz) sebagaimana yang dilakoni para santri sore hari dijanjikan ketenteraman ilahi yang agung:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dinaungi para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 2699).

Dalam khazanah tradisi keilmuan pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, metode duduk bersila di hadapan rihal (halaqah) bukan sekadar tata letak fisik, melainkan perwujudan langsung dari adab thalabul ‘ilmi. Syaikh Burhanuddin az-Zarnuji dalam kitab legendaris Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum menekankan bahwa kesuksesan seorang penuntut ilmu sangat ditentukan oleh penghormatannya terhadap ilmu, kitab, dan sarana belajar (ta’dhimul ‘ilmi wa ahlihi). Memosisikan kitab suci di atas meja rihal kayu—tidak meletakkannya langsung di atas lantai—serta mencatat faidah keilmuan menggunakan pena merupakan adab mutlak yang menjaga agar ilmu yang diserap tidak hilang ditelan kelalaian.
Ditinjau dari perspektif psikologi kognitif dan kronobiologi (chronobiology), penjadwalan halaqah pada awal pagi dan petang hari sangat selaras dengan ritme sirkadian tubuh manusia (circadian rhythms). Pagi hari setelah subuh merupakan fase optimal bagi fungsi kognitif otak (working memory), di mana kadar hormon kortisol alami berada pada tingkat yang mendukung kewaspadaan tinggi, sangat tepat untuk pemahaman konseptual dan telaah materi baru. Sementara itu, sesi petang hari (late afternoon) merupakan waktu yang sangat efektif untuk latihan pengulangan (retrieval practice) dan pemantapan tahfidz sebelum memori dikonsolidasikan secara permanen dalam tidur malam. Disiplin berulang ini melatih kontrol atensi (executive attention) dan ketahanan mental (grit) santri menghadapi kelelahan.
Klimaks dari potret keseharian santri Ash-Shiddiqiyyah ini menyadarkan kita bahwa pembentukan pribadi Rabbani tidak dibangun lewat retorika instan. Karakter tangguh dan hafalan yang mutqin adalah buah dari kerelaan menundukkan lutut berjam-jam di atas lantai ubin, menjaga pandangan tetap tertuju pada baris-baris ayat, dan menundukkan ego di hadapan bimbingan dewan guru.
Ketika sesi halaqah berakhir dan rihal-rihal kayu dilipat kembali, para santri melangkah dengan tenang menyongsong aktivitas berikutnya. Disiplin yang ditempa di ruang halaqah perlahan merembes ke seluruh sendi kehidupan: cara mereka bertutur kata kepada sesama kawan, berbakti kepada orang tua, hingga kepatuhan menjalankan shalat berjamaah.
Ekstrakurikuler & Aktivitas Pembelajaran Seru Pondok Pesantren Modern Ash-Shiddiqiyyah
Klik pada pamflet di bawah ini untuk memutar video keseruan ekstrakurikuler kami!