ashfest 2026 2 Asfest 2026
Berita Yayasan

Warga Amerika Serikat Christopher Richard Mayo Ikikrarkan Syahadat di Masjid Ash-Shiddiqiyyah

Berita Yayasan · Jumat, 9 Oktober 2026 | 14:03 WIB

Banyak orang mengira perpindahan keyakinan adalah peristiwa mendadak yang dipicu emosi sesaat, padahal bagi seorang pencari kebenaran, ia adalah hasil dialektika panjang akal budi yang berlabuh pada ketenangan nurani tanpa setitik pun paksaan.

Keheningan ruang utama Masjid Ash-Shiddiqiyyah, Telaga Indah, Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Bekasi, menjadi saksi titik balik perjalanan spiritual seorang warga negara Amerika Serikat, Christopher Richard Mayo, pada Selasa, 6 Oktober 2026. Melintasi jarak ribuan mil dari belahan bumi barat, pencarian spiritual pria yang sebelumnya memeluk agama Kristen Katolik tersebut secara resmi berlabuh dalam pangkuan Islam melalui pengikraran dua kalimat syahadat yang tulus dan disaksikan langsung oleh para alim ulama serta jemaah setempat.

Perhelatan bersejarah ini diselenggarakan di bawah naungan Pimpinan Cabang Dewan Masjid Indonesia (PC-DMI) Kecamatan Cikarang Barat yang berkolaborasi erat dengan Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah. Kepemimpinan kedua institusi tersebut melekat pada sosok Ustaz Adi Nurseha, Lc., M.Pd., yang mengemban amanah ganda sebagai Ketua PC-DMI Cikarang Barat sekaligus Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah. Sinergi ini menegaskan fungsi sentral masjid dan yayasan pendidikan bukan sekadar sebagai tempat ritual rutin, melainkan episentrum dakwah yang ramah, terbuka, dan mengayomi masyarakat lintas latar belakang.

Prosesi ini turut dihadiri dan disaksikan secara langsung oleh jajaran pengurus harian PC-DMI Cikarang Barat, di antaranya Ustaz Solihin (Sekretaris Jenderal), Ustaz Romli (Bendahara Umum), Ustaz Edi Hamdi (Bagian Diklat), Ustaz Beni Firdaus (Bagian Multikasi), Ustaz Abdul Aziz (Bagian Multikasi), H. Rebo (Wakil Bendahara), serta Ustaz Ikin Sodikin (Bidang Dakwah). Hadir pula para dewan guru, jajaran kepala sekolah, dan santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah yang duduk bersila memenuhi saf, menghadirkan atmosfer ukhuwah islamiyah yang hangat bagi saudara baru mereka.

Secara normatif dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, keabsahan ikrar keislaman mensyaratkan satu prinsip fundamental: ketiadaan paksaan (adamul ikrah). Iman adalah produk kerelaan hati dan kepasrahan akal sehat, bukan hasil intimidasi politik maupun tekanan sosial. Prinsip ini berakar kuat pada firman Allah ta’ala:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Kelapangan dada seseorang dalam menerima kebenaran merupakan manifestasi langsung dari cahaya hidayah yang dianugerahkan oleh Allah ta’ala, sebagaimana ditegaskan dalam ayat lain:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?” (QS. Az-Zumar: 22).

Sebelum prosesi pengucapan ikrar dimulai, pembimbing memastikan kepatuhan mutlak terhadap prinsip syariat tersebut. Di hadapan para saksi, Christopher dimintai konfirmasi mengenai motif di balik langkah besarnya. Dengan tenang dan mantap, ia menegaskan bahwa keputusannya memeluk Islam murni bersumber dari kehendak bebasnya (free will), tanpa paksaan atau iming-iming materi dari pihak mana pun. Ia meyakini dengan kesadaran penuh bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan-Nya yang terakhir.

Momen puncak berlangsung khidmat ketika keheningan masjid diisi oleh pelafalan ikrar tauhid. Dipandu kata demi kata, Christopher melafalkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: “Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Kalimat suci tersebut meluncur tegas dari lisannya, yang seketika disusul oleh kumandang takbir dari para guru, jemaah, dan santri yang memenuhi majelis.

Setelah ikrar terucap sempurna, ketegangan emosional seketika mencair menjadi keharuan mendalam. Merujuk pada literatur hadits shahih, pembimbing menjelaskan kedudukan baru Christopher di hadapan syariat. Islam memberikan titik awal yang bersih bagi siapa saja yang masuk ke dalamnya dengan ikhlas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ

“Tidakkah engkau tahu bahwa Islam itu meruntuhkan (menghapus) apa yang ada sebelumnya (dosa-dosa masa lalu)?” (HR. Muslim No. 121).

Sebagai bentuk persaudaraan dan rasa syukur atas lembaran hidup yang baru, Christopher memanjatkan doa pertamanya sebagai seorang muslim. Secara tulus, ia mendoakan seluruh jemaah yang hadir agar senantiasa dikaruniai umur panjang, kesehatan jasmani, dan limpahan rezeki. Doa tersebut disambut linangan air mata haru dari para santri dan tokoh masyarakat yang menyaksikan langsung momen transformasi batin tersebut.

Ditinjau dari perspektif psikologi konversi agama (psychology of religious conversion), keputusan seseorang meninggalkan keyakinan lama menuju sistem keyakinan baru merupakan resolusi kognitif tingkat tinggi atas krisis eksistensial dan pencarian makna (search for meaning). Ketika integrasi keyakinan baru ini tercapai secara sadar tanpa koersi eksternal, individu mengalami pelepasan beban psikologis yang signifikan (cognitive and emotional relief), diikuti oleh terbentuknya orientasi moral dan identitas diri yang lebih utuh. Penerimaan komunitas yang hangat melalui pelukan persaudaraan para pengurus DKM dan santri memperkuat fondasi social belonging, yang menjadi faktor penentu resiliensi mental seorang mualaf dalam fase adaptasi awal.

Namun, di balik euforia penyambutan, tradisi keilmuan pesantren dan institusi masjid memandang syahadat bukan sebagai garis finis, melainkan garis start. Tantangan sesungguhnya bagi Christopher adalah menapaki proses belajar yang berkesinambungan: mempelajari thaharah, mendirikan shalat, memahami akhlak, dan menjalankan syariat secara bertahap (tadarruj). Di sinilah peran krusial PC-DMI Cikarang Barat bersama Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah di bawah arahan Ustaz Adi Nurseha untuk memberikan pendampingan bimbingan keagamaan yang konsisten dan berkelanjutan.

Peristiwa di Masjid Ash-Shiddiqiyyah ini merefleksikan karakter dakwah Islam yang sejati: ramah, berlandaskan adab keilmuan, dan merangkul kemanusiaan. Cahaya hidayah yang menyentuh Christopher Richard Mayo menegaskan kembali pesan luhur bahwa kebenaran Ilahi akan selalu menemukan jalannya kepada jiwa-jiwa yang mencari dengan ketulusan.

Syahadat telah terucap dan pintu gerbang telah terbuka lebar; kini saatnya membimbing langkah-langkah baru tersebut dengan ilmu, kasih sayang, dan pendampingan yang tak terputus.

Saksikan Detik-detik Beliau Bersyahadat di Instagram kami: