ashfest 2026 2 Asfest 2026
Dewan Tahsinul Qur'an (DTQ)

Lantunan 3 Juz Sekali Duduk di Hadapan Dewan Penguji: Muhammad Fairil Calief Tuntaskan Sidang Tasmi’ di Aula Hj. Sunenti Ash-Shiddiqiyyah

DTQ · Jumat, 9 Oktober 2026 | 16:40 WIB

Membaca Al-Qur’an beberapa lembar dalam shalat harian adalah kelaziman, namun melafalkan tiga juz berturut-turut di hadapan dewan penyidang tanpa melihat mushaf adalah perpaduan ketajaman ingatan, ketahanan napas, dan penundukan ego santri di hadapan kalam Ilahi.

Keheningan yang khidmat menyelimuti Aula Hj. Sunenti di lingkungan Yayasan Pendidikan Islam Ash-Shiddiqiyyah saat pelantang suara mulai menggemakan bait-bait ayat suci Al-Qur’an . Dipandu oleh pembawa acara Muhammad Zaki Alfikri, majelis resmi Sidang Tasmi’ Hifdzil Qur’an 3 Juz digelar untuk menguji ketuntasan dan ketahanan hafalan Ananda Muhammad Fairil Calief, santri kelas 7 SMP IT sekaligus santri Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah.

Ujian tasmi’ ini bukan sekadar simulasi sambung ayat biasa, melainkan pembacaan hafalan secara berurutan sekali duduk (majlis wahid) yang mencakup Juz 1, Juz 2, dan Juz 30. Di hadapan panggung, kedua orang tua Ananda Fairil duduk menyimak secara langsung. Turut mendampingi di meja penguji, guru pembimbing tahfidz Ustazah Urwatul Wutsqo, dewan penyidang Juz 1 dan Juz 2 yakni Ustazah Hj. Mas’udah, serta dewan penyidang Juz 30 yakni Ustaz Ariq Alfalah Yusuf . Majelis ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan penasihat yayasan, di antaranya Al-Mukarram KH. Ahmad Yani Nafis HM, Ustaz Edi Hamdi WHD, serta Ketua Dewan Tahsinul Qur’an (DTQ) Ustaz Irfan Mahendra.

Prosesi sidang dimulai saat Ananda Fairil melafalkan Surah Al-Fatihah yang disambung permulaan Surah Al-Baqarah pada Juz 1 dengan irama yang tenang dan makharijul huruf yang terjaga. Selama lebih dari satu jam pertama, lantunan ayat demi ayat mengalir tanpa jeda membuka lembaran demi lembaran Juz 1 hingga tuntas, disimak teliti oleh Ustazah Mas’udah yang memegang mushaf pengoreksi. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, ujian langsung berlanjut ke Juz 2. Rentang ayat-ayat hukum dan kisah dalam Surah Al-Baqarah kembali dituntaskan dengan tertib, sebelum akhirnya estafet pengujian diserahkan kepada Ustaz Ariq Alfalah Yusuf untuk menyimak tasmi’ Juz 30 dari Surah An-Naba’ hingga Surah An-Nas.

Secara normatif, melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan tertib, jelas, dan tanpa ketergesaan merupakan perintah langsung dari Allah ta’ala:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4).

Kemudahan Al-Qur’an untuk dihafal dan dijadikan pengingat batin juga telah dijaminkan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an itu untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Keteguhan seorang hamba dalam melazimkan tilawah Kitabullah merupakan bentuk perniagaan ruhani yang tidak akan pernah mengenal kerugian:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29).

Keutamaan ini ditegaskan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat shahih mengenai syafaat agung bagi para pembaca dan penjaga Al-Qur’an di akhirat:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim No. 804, dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu).

Setelah tasmi’ tiga juz berhasil dituntaskan hingga Surah An-Nas, lantunan doa khotmil Qur’an dipimpin langsung oleh Ketua DTQ Ash-Shiddiqiyyah, Ustaz Irfan Mahendra. Suasana aula bergetar dalam keharuan saat jemaah dan para santri serentak mengaminkan doa Allahummarhamna bil Qur’an, memohon agar setiap huruf yang dibacakan Fairil menjadi sumber rahmat, cahaya, petunjuk, dan pembela bagi kedua orang tuanya di yaumil akhir.

Dalam sesi taujih “Spirit of Al-Qur’an”, KH. Ahmad Yani Nafis HM menyampaikan mau’izhah yang lugas dan penuh humor khas pesantren. Beliau mengingatkan bahwa disiplin dalam mendidik anak—termasuk ketegasan dalam membiasakan ibadah dan thalabul ‘ilmi—merupakan keniscayaan pembentukan karakter. Beliau juga menuturkan kisah hikmah tentang ketulusan menanam kebaikan serta kemuliaan orang tua yang memiliki anak penghafal Al-Qur’an . Di padang mahsyar kelak, ketika matahari didekatkan dan manusia tenggelam dalam keringat hisabnya, Allah ta’ala menganugerahkan mahkota kemuliaan bercahaya emas bagi ayah dan ibu dari anak-anak yang memelihara Al-Qur’an.

Janji ini selaras dengan sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا

“Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat, yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia.” (HR. Abu Dawud No. 1453, dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu).

Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, metode tasmi’ di hadapan guru bersandar pada prinsip talaqqi dan musyafahah yang tersambung sanadnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qur’an tidak cukup dipelajari secara otodidak melalui rekaman suara atau teks cetak semata. Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menegaskan bahwa menyetorkan hafalan di hadapan guru yang ahli (dhabith) berfungsi memurnikan bacaan dari kekeliruan tersembunyi (lahn khafi) serta menanamkan adab tawadhu’. Menghafal Al-Qur’an bukan perlombaan kecepatan, melainkan ikhtiar seumur hidup untuk menjaga agar titipan wahyu tidak terlepas dari dada.

Ditinjau dari perspektif psikologi kognitif dan ilmu kebiasaan (cognitive stamina & self-regulation), membaca tiga juz secara kontinu tanpa naskah membutuhkan ketahanan atensi tingkat tinggi (sustained executive attention). Selama berjam-jam, otak santri harus mengelola penarikan memori verbal terstruktur (working memory retrieval) di bawah kondisi stres evaluasi publik, sembari menekan distraksi lingkungan sekitar (inhibitory control). Keberhasilan melewati ambang kejenuhan kognitif ini membuktikan terbentuknya ketahanan mental (mental endurance/grit) yang kokoh, buah dari latihan berulang (spaced repetition) dan regulasi diri harian di asrama.

Menjelang penutupan, Ustaz Edi Hamdi WHD memimpin doa bersama sekaligus membagikan tiga formula penting bagi seluruh santri yang hadir agar mampu meraih capaian serupa: istiqamah dalam muraja’ah harian, ketundukan disimak oleh guru, dan ketergantungan mutlak pada doa kepada Allah ta’ala . Sebagaimana maqalah ulama, al-istiqamatu khairun min alfi karamah—keistiqamahan merawat hafalan jauh lebih utama daripada seribu kemuliaan sesaat.

Sidang tasmi’ 3 juz Muhammad Fairil Calief di Aula Hj. Sunenti menjadi bukti konkret sinergi antara kesungguhan santri, ketelatenan dewan asatidz, dan keikhlasan ridha orang tua.

Tiga juz telah tuntas diperdengarkan dengan lancar di hadapan para saksi, namun perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai: merawat ayat-ayat tersebut agar terus berakar kuat di sanubari hingga kelak menggenapkan 30 juz secara mutqin demi menggapai ridha Ilahi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *