RA QT Ash-Shiddiqiyyah Gelar Praktik Mandiri Membuat Jus Buah
Mengajarkan anak mencintai makanan sehat sering kali kalah cepat dibanding daya tarik jajanan instan, padahal cukup dengan menghadirkan warna-warni buah asli di atas meja kelas, rasa ingin tahu dan adab bersyukur mereka bisa mekar dengan sendirinya.
Ruang kelas Raudhatul Athfal Qur’an Terpadu (RA QT) Ash-Shiddiqiyyah dipenuhi warna-warni alami dan antusiasme puluhan santri cilik yang mengenakan seragam ungu ceria berpadu kuning. Melalui agenda tematik bertajuk “Kegiatan Membuat Jus Buah”, pihak sekolah menghadirkan laboratorium sensorik sederhana untuk mengenalkan kekayaan nabati sekaligus menanamkan adab konsumsi Islami secara langsung kepada anak-anak usia dini.
Berdasarkan dokumentasi kegiatan, dua orang guru yang mengenakan seragam biru dan celemek memandu jalannya acara dari meja peragaan utama. Di atas meja telah tersusun rapi dua unit blender, aneka buah utuh dalam keranjang—seperti buah naga ungu, mangga, alpukat, jambu biji, dan jeruk—serta wadah-wadah transparan yang memuat potongan buah siap olah, air gula, dan deretan gelas plastik. Di dinding ruang kelas, terpasang pengingat hadits mengenai kebersihan sebagai bagian dari iman, menegaskan bahwa aspek higienitas pangan merupakan pilar yang tidak terpisahkan dari nilai ketakwaan.
Proses belajar dibuka dengan sesi interaktif pengenalan bahan. Guru mengangkat satu per satu buah, menjelaskan nama, warna, aroma, serta manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Tahapan berikutnya menjadi momen yang paling dinanti: para murid dibagi dalam kelompok kecil untuk praktik langsung. Didampingi guru dengan cermat, tangan-tangan mungil para santri bergantian memasukkan potongan buah mangga dan buah naga ke dalam tabung blender, menuangkan air dan pemanis secukupnya, lalu menyimak bersama bagaimana mesin blender menghaluskan tekstur buah padat menjadi minuman segar berwarna merah marun, hijau, dan oranye.
Pendidikan pengenalan pangan nabati ini memiliki fondasi tauhid yang sangat mendasar dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala secara eksplisit mengajak manusia memperhatikan apa yang ia konsumsi sebagai pintu gerbang tadabbur kauniyah:
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا وَعِنَبًا وَقَضْبًا وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا وَحَدَائِقَ غُلْبًا وَفَاكِهَةً وَأَبًّا مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan melimpah, kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk hewan ternakmu.” (QS. ‘Abasa: 24–32).
Prinsip dasar ini dipertegas dengan perintah mengonsumsi makanan yang memenuhi dua kriteria mutlak: halal dan thayyib (sehat, bersih, dan bergizi):
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168).
Setelah jus selesai diproses dan dituangkan ke dalam teko-teko besar, anak-anak diajak mempraktikkan budaya tertib dengan berbaris rapi membawa gelas masing-masing untuk menerima pembagian jus dari guru. Puncak dari aktivitas ini terlihat ketika seluruh anak duduk melingkar di atas lantai kelas yang beralaskan karpet dan ubin bersih. Sebelum meneguk minuman di tangan, mereka dipandu mengucap basmalah dan memastikan gelas dipegang menggunakan tangan kanan sambil tetap dalam posisi duduk.
Penerapan ini merujuk langsung pada tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membina anak kecil seputar adab makan dan minum:
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak muda, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari No. 5376 dan Muslim No. 2022, dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu).
Kebiasaan minum sambil duduk juga ditegaskan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjaga kehormatan dan kesehatan fisik:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim No. 2020, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah, penanaman adab makan (adabul akl) diposisikan sebagai cermin kejernihan ruhani. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin (rubrik Adab al-Akl) memaparkan bahwa makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh seorang anak membentuk kecenderungan perangai dan ketajaman batinnya. Mengonsumsi hasil bumi yang halal serta thayyib dengan menjaga adab sunnah bukan sekadar urusan biologis, melainkan sarana memupuk sifat qana’ah dan syukur sejak fajar kehidupan.
Ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan anak, aktivitas multisensorik (multi-sensory learning) yang melibatkan indra penglihatan, perabaan, penciuman, dan pengecapan secara simultan terbukti memperkuat retensi kognitif secara optimal dibanding instruksi satu arah. Anak yang terlibat langsung dalam proses persiapan makanan memiliki kecenderungan lebih rendah mengalami penolakan makanan sehat (food neophobia). Selain itu, latihan mengantre saat menuang jus melatih fungsi eksekutif otak dalam hal kontrol diri (self-regulation), kesabaran menunda kepuasan (delayed gratification), dan empati terhadap teman sebaya.
Kegembiraan sederhana di ruang kelas RA QT Ash-Shiddiqiyyah ini membuktikan bahwa pendidikan Islam yang berbobot tidak selalu memerlukan mimbar yang kaku. Ketika potongan buah segar berpadu dengan bimbingan adab yang penuh senyuman, anak-anak menyerap nilai syariat bukan sebagai beban perintah, melainkan sebagai gaya hidup yang membahagiakan.
Kegiatan ditutup dengan lambaian tangan riang seluruh santri cilik ke arah kamera, menandai tuntasnya sebuah hari belajar yang membekas di hati dan ingatan mereka. Dari segelas jus buah yang diolah bersama, terbit pemahaman sederhana namun abadi: bahwa setiap rezeki yang mengalir ke kerongkongan adalah karunia Allah yang wajib disyukuri dengan adab terbaik.
Ekstrakurikuler & Aktivitas Pembelajaran Seru Raudhatul Athfal Qur'an Terpadu (RA QT) Ash-Shiddiqiyyah
Klik pada pamflet di bawah ini untuk memutar video keseruan ekstrakurikuler kami!
Pramuka Kids RA
▶ Tonton Video